nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pekerja Masih Didominasi Pria, Sri Mulyani: Wanita Hanya 54%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 13 Maret 2019 19:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 13 320 2029605 pekerja-masih-didominasi-pria-sri-mulyani-wanita-hanya-54-gM98JfrBRY.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, angkatan tenaga kerja di seluruh negara masih didominasi oleh laki-laki. Hal ini menunjukkan partisipasi angkatan kerja perempuan masih rendah.

Dia menyebutkan, di Indonesia sendiri partisipasi angkatan kerja laki-laki mencapai 83%, sedangkan untuk perempuan hanya 54%.

“Labor participation untuk perempuan, itu masih jauh tertinggal hanya 54% dibandingkan lebih dari 83% untuk laki-laki. Gaji yang diterima secara rata-rata income dari perempuan juga 32% lebih rendah dari laki-laki,” ujarnya saat saat menjadi pembicara dalam acara Ring the Bell for Gender Equality" di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (13/3/2019).

 Baca Juga: Sri Mulyani: Upah Pekerja Wanita Masih 32% Lebih Rendah dari Pria

Menurutnya tingkat partisipasi yang rendah itu karena stigma yang dihadapi perempuan sejak kecil hingga dewasa, seperti lemah ataupun lebih cocok hanya menjadi ibu rumah tangga. Upah yang lebih rendah dari laki-laku juga dikarenakan adanya anggapan perempuan kurang berkontribusi di tempat mereka bekerja.

Di sisi lain, dalam hal akses keuangan, perempuan juga kerap kali kesulitan untuk mendapatkan pinjaman karena mereka tidak memiliki jaminan. Padahal, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan merupakan penggerak yang kuat dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 Baca Juga: 14.736 Tenaga Kerja Asing Masuk Jateng, Jabatannya Direktur hingga Komisaris

Oleh sebab itu, isu kesetaraan gender menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia untuk diselesaikan bersama seluruh pemangku kepentingan. "Isu mengenai kesetaraan gender ini strategis dari kacamata pembangunan, perekonomian, dan dari kacamata masyarakat. Di mana suatu negara akan bisa jauh lebih berdaya tahan. Dan untuk Indonesia kita masih perlu banyak sekali PR yang dilakukan," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini