nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantan Menkeu Sebut Defisit Transaksi Berjalan Bukan Masalah

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 14 Maret 2019 17:57 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 14 20 2030045 mantan-menkeu-sebut-defisit-transaksi-berjalan-bukan-masalah-3siUMThIui.jpg Foto: Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri

JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai hal yang wajar bila negara berkembang mengalami defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Pasalnya, negara berkembang membutuhkan impor bahan baku dan barang modal yang menandai perekonomian terus berjalan.

Menurutnya, sejumlah negara lain juga pernah mengalami CAD dengan rasio yang tinggi seperti Singapura mencapai 10% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), China sebelumnya pernah mencapai 12% dari PDB. Vietnam bahkan baru mengalami transaksi berjalan yang surplus pada tahun 2011.

"Jadi yang bermasalah bukan di CAD. Tapi bagaimana dengan kondisi CAD tapi Rupiah bisa stabil. Itu yang harus dipecahkan," katanya dalam acara diskusi mengenai ekonomi dan politik di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan 2019 Akan Turun Jadi 2,5%, Ini Caranya

Dia menyatakan, yang perlu dilakukan pemerintah yakni membuat investor mau menanamkan lebih lama dananya di Indonesia. Saat ini investasi Indonesia sebagian besar berasal dari jangka pendek, hal ini membuat kurs Rupiah dan pasar modal mudah bergejolak.

Terlihat pada tahun 2017 investasi melalui portofolio sebesar USD20,6 miliar sedangkan dari investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) hanya USD19 miliar. Artinya lebih besar investasi yang mudah pergi dari Indonesia.

"Defisit APBN itu dibiayai dengan obligasi pemerintah, di mana 25% dalam global bond sednagkan 75% dalam bentuk mata uang lokal atau Rupiah. Tapi dari obligasi denominasi Rupiah itu 60%-nya dimiliki non residen (bukan investor dalam negeri)," katanya.

Baca Juga: Cara BI Jaga Defisit Transaksi Berjalan 2,5%

Oleh sebab itu, menurutnya untuk dapat menahan lebih lama investasi asing yakni dilakukan dengan beragam insentif fiskal seperti tobin tax, yakni pengenaan pajak transaksional atas dana yang ditarik dari pasar saham. Di mana pajak akan dikenakan bagi investasi portofolio jangka pendek.

Hal ini tentu berisiko terhadap capital market, sebab asing akan semakin memperhitungkan untuk mau masuk ke Indonesia. Maka yang perlu dilakukan lagi yakni memberikan insentif reverse tobin tax, di mana investor yang melakukan reinvest di Indonesia akan mendapatkan insentif pajak tertentu.

"Jadi yang perlu dipertimbangkan secara serius itu bagaimana membuat orang tertarik mau tempatkan investasinya di Indonesia," katanya.

(fbn)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini