nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Investasi Melambat, Ekonomi RI Ditopang Permintaan Domestik

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 27 Maret 2019 12:59 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 27 20 2035578 investasi-melambat-ekonomi-ri-ditopang-permintaan-domestik-lqXoAmfWv7.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2019 diprediksi tetap kuat. Hal ini ditopang oleh permintaan domestik, baik dari konsumsi swasta maupun konsumsi pemerintah.

Konsumsi swasta diperkirakan tumbuh kuat seiring dengan daya beli terjaga, tingkat keyakinan konsumen yang membaik, serta dampak positif persiapan pemilu dan realisasi bantuan sosial yang tinggi.

“Investasi diperkirakan tumbuh melambat tercermin dari penjualan semen yang menurun. Investasi non bangunan juga melambat, terindikasi dari realisasi impor barang modal yang lebih rendah,” kata Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) IGP Wira Kusuma di Jakarta.

 Baca Juga: Banyak Negara Krisis Ekonomi, Gubernur BI: Kita Harus Bersyukur

Adapun ekspor masih melambat dipengaruhi perlambatan ekonomi dunia yang kemudian berdampak pada penurunan volume perdagangan dan harga komoditas dunia. Perlambatan ekspor terjadi, baik pada produk pertanian, pertambangan, maupun manufaktur.

“Sementara itu, impor terus menurun sejalan dengan kebijakan yang ditempuh untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan. Penurunan impor terjadi pada barang konsumsi dan bahan baku,” ujarnya.

Ke depan, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 pada kisaran 5,0-5,4% didukung permintaan domestik dan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran 3,5% plus minus 1%. BI optimistis nilai tukar rupiah akan menguat.

Dalam sepekan terakhir, rupiah mengalami penguatan dari Rp14.300 per dolar AS ke level Rp14.135 pa da Kamis (21/3) lalu. Meskipun keesokan harinya nilai tukar rupiah sedikit terkoreksi, BI memandang hal itu sebuah koreksi yang sehat karena tidak mungkin fluktuasi nilai tukar itu garis lurus.

“Nilai tukar itu kan dipengaruhi supply-demand, ya harus mengalami fluktuasi,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah.

Dari sisi global, pada 2018 ada tiga hal yang berpengaruh perkembangan nilai tukar rupiah, yakni kenaikan suku bunga Federal Reserve (FFR), adanya risk off di pasar keuangan global karena adanya perangdagang, serta ketidakpastian Brexit. “Dari tiga faktor ini, pada 2018 sangat berpengaruh terhadap tekanan kurs,” ujar Nanang.

Akan tetapi, setidaknya tahun ini satu hal sudah lebih jelas, seperti hasil pertemuan The Fed pada 21 Maret yang memberi sinyal semakin jelas bahwa mereka tidak akan menaikkan suku bunga setidaknya tahun ini.

 Baca Juga: Ekonomi 2018 Tumbuh 5,17%, RI Lolos dari Ketidakramahan Dunia

Dia menjelaskan, normalisasi akan dihentikan sampai dengan September 2019, yakni normalisasi neraca The Fed. Artinya, satu faktor global itu sudah jelas akan memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah. Selain itu, ada faktor lain yang muncul, yakni situasi ekonomi global semakin melemah atau merosot.

“Hari Jumat data ekonomi Jerman keluar, data manufaktur, memang menunjukkan adanya kemerosotan, demikian juga di Prancis. Tapi, berdasarkan beberapa referensi itu akan reborn pada akhir 2019. Memang pada akhirnya, kemarin European Central Bank (ECB) memberi sinyal sangat dovish,” kata dia.

Karena itu, dari tiga faktor ini sudah memberi arah yang jelas sebab tidak akan terlalu menekan rupiah dan sebaliknya justru bisa memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah. Adapun dari sisi domestik ada beberapa yang mendukung di antaranya inflasi di bawah 3% dan pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas 5%.

Defisit transaksi berjalan (current account deficit /CAD) seharusnya pada kuartal II juga akan menurun. Tetapi, overall pada 2019 seharusnya bisa mendekati 2,5% dengan berbagai upaya dari pemerintah dan BI. Dengan demikian, dari sisi stabilitas nilai tukar akan lebih baik dari tahun 2018.

“Tapi kurs jangan dilihat dari hari ke hari, karena ditentukan supply-demand. Jadi, bisa saja tiga hari menguat, satu hari melemah. Itu sebuah koreksi yang sehat,” ungkapnya. (Kunthi Fahmar Sandy)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini