nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serapan Beras Belum Optimal, Bulog Perlu Cari Pasar Baru

Rabu 27 Maret 2019 12:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 27 320 2035567 serapan-beras-belum-optimal-bulog-perlu-cari-pasar-baru-FVCIlZA8My.jpg Beras (Foto: Okezone)

JAKARTA – Realisasi dari serapan beras Bulog masih terbilang rendah. Berdasarkan data dari Bahan Ketahanan Pangan, realisasi serapan beras Bulog per 13 Maret adalah sebesar 20.844 ton. Padahal target serapan beras selama Januari hingga Maret 2019 ditetapkan sebesar 1,45 juta ton. Realisasi yang masih jauh dari target ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah keharusan Bulog untuk menyerap beras sesuai HPP yang sudah ditetapkan pemerintah.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, selain alasan tadi, Bulog juga menghadapi kesulitan untuk melakukan penyerapan karena kanal penyaluran BULOG yang hilang semenjak perubahan skema program bantuan Rastra Penerapan HPP membuat daya serap Bulog terhadap beras petani menjadi kurang fleksibel. Adanya HPP justru menghambat kerja Bulog untuk menyerap gabah dan beras dari petani. Bulog harus membeli gabah pada kisaran Rp4.030/kg, di saat BPS pada Februari lalu mencatat harga gabah ada di kisaran Rp5.114/kg, dengan kualitas terendah ada di angka Rp4.616/kg.

“Angka ini tentunya jauh dari patokan harga yang Bulog miliki, sehingga tidak menutup kemungkinan petani memutuskan untuk menjual ke tengkulak dan pada akhirnya akan mengganggu stabilitas harga beras di pasaran,” jelas Ilman dilansir dari Harian Neraca, Rabu (27/3/2019).

Baca Juga: Jaga Harga, Bulog Sudah Gelontorkan 180 Ribu Ton Beras

Selain itu, Bulog juga masih kesulitan untuk mencari kanal penyaluran beras semenjak adanya pengalihan dari Rastra ke program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau voucher pangan. Melalui program itu, penerima bantuan memiliki akses terhadap jenis beras lain sehingga beras Bulog tidak menjadi satu-satunya opsi beras bantuan. Hal ini mengakibatkan permintaan beras Bulog berkurang.

Ilman menambahkan, ketika permintaan berkurang, Bulog pun pada akhirnya relatif sulit untuk melakukan penyerapan dari petani. Secara rasional, pedagang tidak akan menyetok suplai ketika mereka sendiri kesulitan untuk melakukan penjualan. Hal ini juga berlaku dengan kondisi Bulog.

Anggota Komisi VI DPR RI Slamet menyatakan program on farm atau pembudidayaan mandiri, kemitraan, dan sinergi yang dilakukan oleh Bulog di sejumlah daerah perlu didukung dan diperkuat karena akan sangat membantu petani. "Program Bulog ini harus diberikan penguatan, khususnya di beberapa daerah dan provinsi ini sudah berjalan programnya," kata Slamet.

22.500 Ton Beras Impor Asal Vietnam Tiba di Pelabuhan Indah Kiat Merak 

Slamet mengemukakan hal tersebut ketika bersama Tim Komisi VI DPR melakukan kunjungan kerja spesifik ke Bulog Divre Sumatera Barat, beberapa waktu lalu. Menurut dia, dengan program tersebut maka ke depannya petani tidak ada lagi yang mengeluh mengenai harga gabah yang rendah atau dimainkan oleh pihak tengkulak.

Hal tersebut, lanjutnya, karena seluruh kegiatan usaha tani didanai dan dikelola langsung oleh Bulog di lahan milik sendiri serta lawan sewa yang berasal dari pihak lain. Politisi PKS itu memaparkan, kegiatan kerja sama usaha tani antara Bulog dengan mitra kerja on farm dengan kewajiban Bulog memberikan paket pinjam, dan kewajiban mitra membayar kembali pascapanen. Ia juga mengutarakan harapannya agar Bulog semakin profesional dan bisa mewujudkan berbagai program yang terkait dengan on farm.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini