Kemenperin Siap Ekspor Mobil Desa ke Timor Leste

Retno Tri Wardani, Jurnalis · Minggu 14 April 2019 15:14 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 14 320 2043377 kemenperin-siap-ekspor-mobil-desa-ke-timor-leste-arf3L1KxJY.jpg Mobil Pedesaan (Foto: Kemenperin)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika siap memasarkan Alat Mekanik Multifungsi Pedesaan (AMMDes) atau mobil desa ke beberapa negara di Asia Negara (Asean).

Mobil asli Indonesia yang dikembangkan PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia, dinilai memiliki ketangguhan mesin AMMDes dan luasnya daya jelajah. Mobil desa ini mampu melalui jalan ekstrim di desa-desa yang infrastrukturnya masih minim.

Menurut Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin Putu Juli Andika, mobil ini sangat cocok untuk negara yang infrastruktur di daerahnya masih kurang baik. Apalagi, mobil desa ini baru dikembangkan di Indonesia.

"Ini potensial ekspor, karena mobil sejenis ini tidak ada di dunia. Ini ide luar biasa yang dikembangkan KMWI sehingga bisa mengisi pasar yang kosong. Minatnya banyak, salah satunya Timor Leste," ujarnya, dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (14/4/2019).

Baca Juga: Keluhan Perusahaan Miras Eropa: Sulitnya Ekspor ke Indonesia

Menurutnya, kehadiran mobil desa mampu meningkatkan produktivitas petani di desa. Sifatnya yang multiguna membuat AMMDes memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh jenis mobil pedesaan lainnya.

Puji menambahkan melalui AMMDes, petani dapat menikmati hasil tanamnya dengan lebih baik.

Mengacu pada data riset Kemenperin di Sukabumi dan juga Cianjur, Jawa Barat, rata-rata ongkos angkut hasil bumi ke kota menghabiskan dana sekitar Rp1,7 juta per bulan. Hal itu disebabkan oleh kecilnya ruang pengangkutan, maklum selama ini para petani menjual hasil taninya ke Kota menggunakan sepeda motor.

Baca Juga: Ekspor IKM Gerabah dan Keramik Hias Tembus USD25 Juta

Sehingga jarak pengangkutan jadi “terlihat” lebih jauh, karena petani harus bolak-balik mengantar dan menjemput kembali hasil taninya. Namun dengan menggunakan AMMDes, ongkos kirim menyusut menjadi Rp900 ribu-an.

“Itu mengapa dalam AMMDes 2nd Summit akan kita undang seluruh stakeholder, karena kita ingin benar-benar membantu masyarakat dan mengubah pandangan masyarakat tentang teknologi. Ditambah konsep membangun dari desa juga sesuai dengan Nawacita pemerinta yang ingin mengurangi kesenjangan antar wilayah melalui penguatan konektvitas dan kematiriman,” jelas Puji.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) Reza Treistanto mengakui, bahwa sudah ada minat dari negara lain soal mobil desa ini. Namun, dirinya masih enggan mengungkapkan lebih detail negara mana yang berminat tersebut.

"Rencana ekspor nanti ya, Senin ada MoU. Asia Tenggara ada, tapi nanti lah, kalau sudah resmi ada di katalog elektronik atau e-catalogue kami," ujarnya.

Terkait produksi, saat ini KMWI memiliki kapasitas produksi sebanyak 3.000 unit per tahun. Untuk akhir Maret sudah diproduksi sebanyak 2.000 unit.

"Komersialisasi akhir bulan, kelihatannya target bukan per orang untuk saat ini. Kita sasar supaya setiap desa punya AMMDes dulu, kemudian BUMDes dan asosiasi. Ketika desa punya, masyarakat akan lihat fungsinya, sehingga diharapkan bisa mengikuti nantinya," tuturnya.

Dia optimis produknya ini sangat potensial, apalagi di Indonesia ada 74.000 desa. Katakan baru 30% desa yang sudah memiliki infrastruktur yang memadi, sisanya masih membutuhkan bantuan salah satunya AMMDes.

Oleh karena itu, Anak usaha PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) menargetkan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya menjadi 12 ribu unit per tahun di 2020.

"Sebetulnya value AMMDes untuk desa yang belum ada infrastruktur bagus selalu. Karena kalau sudah ada jalannya, pasti lebih pilih beli mobil pick up. Tapi jalan infrastruktur belum bagus, berbukit value kita tinggi," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini