Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BBM Tak Naik, Jaga Daya Beli Masyarakat saat Ramadan

Koran SINDO , Jurnalis-Minggu, 21 April 2019 |15:35 WIB
   BBM Tak Naik, Jaga Daya Beli Masyarakat saat Ramadan
Ilustrasi: Foto Okezone
A
A
A

JAKARTA - Beberapa kebijakan pemerintah seperti menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan memberi diskon kepada pelanggan listrik 900 PA akan membuat daya beli masyarakat relatif stabil pada Ramadan tahun ini. Hal yang patut dikhawatirkan justru kenaikan harga tiket pesawat dan masyarakat akan bergeser menggunakan kendaraan pribadi.

Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudistira Adhinegara mengatakan, secara keseluruhan kondisi perekonomian masyarakat Indonesia stabil. Daya beli masyarakat cukup baik dan inflasi pangan terjaga dalam triwulan pertama di 2019 dengan deflasi 0,37%. Hal itu menunjukkan bahwa memang tekanan terhadap harga bahan pangan ini relatif stabil. Tidak ada gejolak berlebihan.

“Konsumsi rumah tangga masyarakat memang belum ada data dari BPS, tetapi diperkirakan tingkat konsumsi rumah tangga akan terjaga di level 5%, apalagi setelah pemilu. Quarter pertama menunjukkan sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran terhadap merosotnnya daya beli,” tutur Bhima.

 Baca Juga: Berkah Lebaran, Konsumsi Rumah Tangga Naik Jadi 5,14%

Bhima meyakinkan, situasinya hampir mirip tahun 2018. Bahkan tahun ini jauh lebih baik karena kebijakan pemerintah menahan harga BBM subsidi dan diskon tarif listrik untuk golongan 900 PA. Tantangan ekonomi yang dirasakan saat Ramadan menurutnya justru datang dari harga tiket pesawat sehingga masyarakat akan bergeser menggunakan kendaraan pribadi untuk mudik.

Bhima juga menjelaskan pada momen Ramadan dan Lebaran, di quarter kedua konsumsi rumah tangga dapat naik hingga 0,2%. “Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang biasanya 5% nanti naik. Ada tambahan 0,2%, bisa juga pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua biasanya lebih tinggi dibanding kuartal lainnya. Karena puncaknya permintaan pada saat ini,” jelasnya.

Belanja yang dilakukan secara online yang kini banyak dilakukan juga dapat membantu masyarakat dalam menekan pengeluaran. Hal itu dikarenakan harga jual di e-commerce lebih murah serta banyak keuntungan yang didapat karena promosi brand atau marketplace. Bhima menyarankan masyarakat dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk dapat mengatur arus keuangan rumah tangga.

Namun menurutnya ada dampak negatif dari e-commerce, yakni masih banyak produk yang dijual merupakan barang impor. Dengan demikian bila dilihat dari sisi perekonomian negara akan memberi dampak negatif terhadap nilai tukar rupiah. Adapun produk impor favorit saat Ramadan ialah fashion berupa busana siap pakai dan barang elektronik.

 Baca Juga: Ditopang Daya Beli, Ekonomi Indonesia di 2019 Diprediksi Lebih Baik

Menurutnya hal ini sebuah konsekuensi dari kemudahan belanja online yang kini semakin digemari. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayanti menjelaskan, Kemendag melakukan berbagai cara, salah satunya menggandeng BUMN dan pelaku usaha dalam penetapan harga eceran tertinggi untuk bahan pokok seperti gula, minyak goreng kemasan kecil, dan daging beku.

“Kami duduk bersama agar harga di pasar tidak melonjak seiring dengan permintaan yang banyak. Kami juga menjamin stok yang ada sehingga tidak ada yang langka,” ungkapnya. Tjahya menambahkan, Kemendag juga melakukan operasi pasar yang dilakukan Perum Badan Urusan Logistik. Tujuannya tentu agar terus memantau stabilitas harga.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement