Begini Cara Tingkatkan Energi Panas Bumi Jadi Listrik

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Kamis 25 April 2019 14:38 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 25 320 2047925 begini-cara-tingkatkan-energi-panas-bumi-jadi-listrik-KJPYuPo0uV.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Sebagian masyarakat telah mengetahui Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, yakni sekitar 40% dari total potensi panas bumi dunia.

"Namun dalam hal pengembangan, ternyata kita masih jauh tertinggal, karena hanya sekitar 7% (1.948,5 megawatt) dari seluruh potensi sumber daya dan cadangan panas bumi (28,5 GW) yang telah dimanfaatkan menjadi energi listrik," kata Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Agar pemanfaatan tersebut meningkat, berbagai hal perlu dilakukan, termasuk mendukung pemerintah dalam memperbaiki dan menjalankan kebijakan, regulasi dan program yang sesuai konstitusi, sehingga target pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dapat dicapai.

 Baca Juga: Sri Mulyani: Jangan Ada Mark Up Anggaran

Marwan mengingatkan bahwa salah satu aspek penting yang diamanatkan konstitusi, UUD 1945, dalam pemanfaatan sumber daya alam Indonesia adalah tentang penguasaan negara, di mana aspek pengelolaannya harus berada di tangan BUMN.

Saat ini ketiga BUMN yang mengelola sumber daya panas bumi kita, yakni Pertamina Geothermal Energi (PGE), Geo Dipa Energi (GDE) dan PLN Geothermal, hanya menguasai sekitar 38,2% produksi PLTP nasional. Sisanya dikelola oleh perusahaan swasta nasional dan asing.

"Hal ini tentu masih jauh dari kondisi ideal konstitusional yang didambakan sehingga pengelolaan SDA tersebut dapat mendatangkan manfaat bagi sebesar-besar kemajuan rakyat," katanya.

Sementara itu, Marwan menyatakan bahwa buku Pengembangan Panas Bumi Sebagai Energi Kearifan Lokal Indonesia dimaksudkan untuk mengadvokasi hal yang terkait dengan aspek kearifan lokal. Sudah cukup sering terjadi, bahwa rakyat suatu daerah luput dari perhatian pemerintah untuk ikut menikmati eksploitasi sumber energi di daerahnya.

"Hal ini tidak boleh terulang pada sektor energi panas bumi. Masyarakat sekitar PLTP, bukan saja harus ikut menikmati energi yang dihasilkan, tetapi juga harus dilibatkan dalam setiap kesempatan memperoleh manfaat ekonomi-bisnis, sosial-budaya dan lingkungan, termasuk juga dalam mempertahankan dan meningkatkan berbagai aspek kearifan lokal," ujarnya.

 Baca Juga: Geo Dipa Bangun PLTP Unit II di Dieng dan Patuha Senilai USD300 Juta

Dengan berbagai manfaat pengembangan PLTP yang diperoleh masyarakat sekitar di sejumlah daerah saat ini, seperti terjadi di sekitar Lahendong, Ulubelu dan Kamojang, maka perbaikan terkait aspek kearifan lokal perlu terus dilakukan.

Marwan juga berharap guna memenuhi target penyediaan listrik PLTP sebesar 7200 mw pada 2025, di mana kebijakan harga jual listrik dari panas bumi tidak dapat disandingkan dengan BPP pembangkit listrik jenis lain, dimana untuk harga jual listrik panas bumi dapat menggunakan metode FIT (Feed-in Tariff) untuk mengejar target energy mix 23% RE 2025.

"Keberhasilan eksplorasi cadangan panas bumi harus menjadi prioritas. Untuk itu, karena tingginya tingkat risiko kegagalan, perlu adanya insentif eksplorasi melalui kebijakan pengalokasian dana eksplorasi yang ditanggung pemerintah, dan kebutuhannya dianggarkan di dalam APBN," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini