Share

Banyak Lahan 'Tidur', Aturan kompleks Kemayoran Harus Dievaluasi

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 08 Mei 2019 11:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 08 470 2052941 banyak-lahan-tidur-aturan-kompleks-kemayoran-harus-dievaluasi-qzZiFPZ3H7.jpg Wisma Atlet Kemayoran. Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Kalangan pengusaha meminta agar pemerintah segera menerbitkan regulasi terkait pengelolaan lahan kompleks Kemayoran, Jakarta Pusat. Pasalnya, saat ini banyak lahan tidur yang tidak dimanfaatkan secara maksimal sejak tiga tahun terakhir. Padahal di sisi lain, banyak calon investor berniat menanamkan modalnya di kawasan bisnis itu.

Namun, sejak pembangunan Wisma Atlet Asian Games yang dilakukan pada 2016 silam, geliat pembangunan di kawasan itu nyaris tidak terasa. “Saya sudah dua kali mengajukan permohonan menyewa lahan, tapi ditolak dengan alasan tidak jelas.

Baca Juga: Sebelum Diserahkan ke Kemensetneg, Wisma Atlet Kemayoran Akan Direnovasi

Kata pengelola peruntukannya tidak sesuai. Padahal kawasan bisnis Kemayoran masih banyak lahan tidur yang tidak dimanfaatkan,” ujar Leo Fernando, pengusaha bidang automotif di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Leo, kawasan Kemayoran memang sangat strategis untuk dijadikan pusat bisnis dan perdagangan yang sudah dikenal sejak dulu. Dia sendiri bermaksud membangun dealer mobil di kawasan itu lengkap dengan bangunan gedung perkantoran.

“Saya sudah siapkan investasi sekitar Rp100 miliar, tapi tidak tahu kenapa ditolak terus,” ujarnya. Pengusaha lainnya, CEO PT Jimac Perkasa Benny Kurnia - jaya mengakui, dirinya pernah menyewa lahan selama 16 tahun di Kemayoran dengan bisnis jual beli alat berat, tapi diminta pindah tiba-tiba karena pemerintah membangun Wisma Atlet untuk Asian Games.

wisma atlet

“Saat itu kontrak masih berjalan, tapi demi kepentingan negara dan suksesnya Asian Games, saya rela pindah ke luar Kemayoran,” ujar pengusaha alat berat itu. Saat pindah, ujar dia, pihak Pusat Pengelola Kompleks Kemayoran (PPKK) menjanjikan akan memberikan lahan kosong yang baru sebagai kompensasi.

Namun, sampai saat ini lahan yang dijanjikan tidak pernah terealisasi. Padahal saat diminta pindah, perusahaannya masih menyisakan kontrak penggunaan lahan sekitar dua tahun lagi. “Kami sudah berkantor di Kemayoran sejak 2001 dengan usaha bisnis alat berat. Bahkan, kami sudah terkenal sampai ke mancanegara, seperti Singapura, Jepang, Korea, dan China. Bisnis ini juga mampu menarik investor asing dan mancanegara berinvestasi di dalam negeri, termasuk investor lokal dari pelbagai daerah,” kata dia.

Dia berharap dengan regu lasi yang jelas, ke depan bisa kembali mendapatkan lahan dan menjadikan kawasan Kemayoran sebagai pusat bisnis alat berat kelas dunia. “Kalau disediakan lahan baru, tidak ada masalah saya kembali lagi berbisnis dan menghidupkan kawasan Kemayoran, asalkan ada kepastian hukum yang jelas,” kata dia.

Sekadar diketahui, saat ini kawasan PPKK memiliki luas sekitar 454 hektare (ha) dan sekitar 20%-nya berupa lahan tidur. Sementara itu, Kepala Divisi Humas PPKK Yosef Indrajaya mengatakan, saat ini lahan kosong di kompleks bisnis Kemayoran tersisa sekitar 20 ha.

wisma atlet

“Sebanyak 60 ha masih terikat perjanjian. Jadi yang tersisa 20 ha. Itu masih bisa dimanfaatkan bagi pihak lain yang ingin mengelola,” kata dia. Menurut Yosef, hak pengelolaan lahan di kawasan itu menggunakan sistem konsesi.

Caranya bisa dengan mendapatkan hak guna bangunan (HGB) atau hak pengelolaan (HPL). “Itu bisa dapat HGB di atas HPL. Apa - bila HGB 20 tahun diperpanjang sampai sesuai perjanjian. Dan kesempatan untuk sisa lahan tersedia masih terbuka untuk semua,” katanya.

Dia menambahkan, pemerintah saat ini memiliki Badan Layanan Umum (BLU) kawasan di empat lokasi, yakni Kemayoran, Gelora Bung Karno, serta dua kawasan lagi di Sabang Aceh dan Batam. “Terkait peruntukannya, itu untuk properti seperti apartemen dan hotel,” ujarnya.

(Yanto Kusdiantono/Ichsan Amin)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini