Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Carilah Kail daripada Ikan

Rani Hardjanti, Jurnalis · Jum'at 10 Mei 2019 14:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 09 320 2053558 jejak-bisnis-nabi-muhammad-saw-carilah-kail-daripada-ikan-A0adFOOjtf.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan usahanya selalu menekankan kemandirian ekonomi dan entrepreneurship, maka itu ada baiknya menyimak kisah salah seorang sahabat yaitu Abdurrahman bin Auf.

Ketika berangkat hijrah dari Makkah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf pun ditawari sebidang kebun kurma. Alih-alih menyetujui tawaran tersebut, Abdurrahman bin Auf malah minta ditunjukkan jalan menuju pasar.

Fenomena ini sungguh menarik. Rupa-rupanya Abdurrahman bin Auf "lebih mencari kail ketimbang menerima ikan". Tidak berapa lama kemudian, dia berhasil menjadi seorang entrepreneur.

Bukan sembarangan entrepreneur, melainkan yang kaya raya. Bahkan sewaktu peperangan terjadi, tidak sedikit unta yang dia sedekahkan untuk para pejuang. Demikian seperti dikutip dari buku 'Muhammad sebagai Pedagang' karya Ippho Santosa dan Tim Khalifah terbitan Elex Media Komputindo, Jumat (10/5/2019).

 Baca Juga: Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Mulailah dengan yang Kanan

Bukankah kemandirian dan entrepreneurship juga telah dicontohkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad lebih dari 1.400 tahun silam? Tatkala berusia 8 tahun (meski yatim-piatu), Muhammad cilik sudah menjadi penggembala yang mandiri.

Umur 12 tahun (katakanlah kelas VI SD), ia sudah mandiri dan berdagang sampai Syiria. Tidak cukup sampai di situ. Ketika umur 25 tahun, Muhammad telah menjadi pengusaha yang kaya raya dan sudah berdagang hingga luar negeri, tidak kurang dari 18 kali.

Bayangkan saja, jangkauan perdagangan Muhammad muda mencapai Yaman, Syiria, Busra, Irak, Yordania, Bahrain, dan simpul-simpul perdagangan lainnya di jazirah Arab.

Baca Juga: Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, 2 Metode Keberhasilan

Dalam perkembangannya, Nabi pun diakui sebagai pengusaha yang sangat terpercaya, sehingga digelari Al Amin.

Saat menikah, Nabi juga ternyata sanggup menyerahkan 20 unta muda sebagai maskawin. Jika dirupiahkan pada konteks saat ini maka jumlah maskawinnya sekira Rp1 miliar. Itu adalah angka yang tidak sedikit. Padahal semasa merintis bisnis, ia tidak mengantongi modal sepeser pun.

Nah, apa rahasianya? Tidak lain, tidak bukan, rahasianya terletak pada kepercayaan.

Berbekal kepercayaan itulah Muhammad mengelola modal orang lain, baik dengan sistem upah ataupun bagi hasil. Adapun terkait entrepreneurship, ia mengelola modal orang lain dengan sistem upah ataupun bagi hasil.

Begitulah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang entrepreneur. Demikian pula istrinya dan sahabat-sahabtnya.

Islam pun masuk ke Tanah AIr dibawa oleh entrepreneur Muslim dari Timur Tengah dan China yang singgah. Tidak terkecuali santri-santri zaman dahulu yang mengabdikan dirinya sebagai pedagang, kendati dalam lingkup yag terbatas (skala kecil). (rhs)

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini