nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Dagang AS-China Kembali Memanas Bikin Harga Sawit Merana

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 15 Mei 2019 19:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 15 320 2056159 perang-dagang-as-china-kembali-memanas-bikin-harga-sawit-merana-AF6HnnWoEq.jpg Ilustrasi Industri Kelapa Sawit (Foto: Antara)

JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China saat ini kembali memanas. Hal tersebut menyusul aksi saling balas mengenakan bea masuk antara AS dan China.

Kementerian Keuangan China baru saja mengumumkan pengenaan tarif impor baru mulai dari 5%-25% terhadap 5.140 produk AS yang bernilai USD60 miliar pada 1 Juni 2019 mendatang. Aksi itu merupakan tindakan balasan setelah Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor atas produk China senilai USD200 miliar dari 10% menjadi 25%.

Menanggapi hal tersebut, Dewan Pembina Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi mengatakan, perang dagang yang kembali memanas ini berdampak langsung kepada industri kelapa sawit Indonesia. Sebab perang dagang dapat membuat harga dari minyak sawit mengalami penurunan dalam beberapa periode ke depan.

"Bagaimana bisa menyerang harga? Karena sekarang minyak nabati asal AS, minyak kedelai, harganya sudah turun sampai 50%. Kalau harga minyak kedelai jatuh, harga minyak sawit juga akan terus tertekan," ujarnya saat ditemui dalam acara Buka Puasa Bersama GAPKI di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Baca Juga: Diskriminasi Kelapa Sawit, Pemerintah Siap Gugat ke WTO

Bayu meminta kepada pemerintah untuk segera merumuskan strategi yang lebih baik lagi untuk jangka menengah dan panjang. Jangan sampai, pemerintah baru bergerak ketika harga kelapa sawit sudah merosot.

Menurutnya, pemerintah juga perlu mencari alternatif baru agar minyak sawit Indonesia bisa terserap semua. Sebab, pemerintah tidak bisa terus mengandalkan biodiesel sebagai senjata utama penjualan sawit.

"Sawit itu sudah digagas sejak 2007. Itu visi 2020 tapi 2018 sudah terealisasi. Maka itu sekarang harus ada road map baru untuk sawit, tidak melulu biodiesel," jelasnya.

Baca Juga: Diskriminasi Kelapa Sawit, Penyerapan Biodiesel Jadi Strategi Paling Efektif

Bayu membeberkan alasan mengapa Indonesia tidak mengandalkan biodiesel saja untuk menyerap minyak sawit Indonesia. Menurut dia, dalam tiga puluh tahun ke depan, industri-industri otomotif diyakini sudah sangat maju dengan pengembangan mobil tanpa mesin bakar atau zero emision.

"Kalau sudah tanpa mesin bakar, ya mereka tidak akan pakai BBM. B100 tidak akan lagi digunakan. Toyota pun sudah mencanangkan target itu dan progresnya berjalan," jelasnya.

Bahkan menurutnya, beberapa kota-kota besar di Eropa kini sudah akan mulai melarang penggunaan kendaraan bermesin diesel. Misalnya di Coppenhagen, Denmark dan London Inggris, sudah keluar wacana tentang pelarangan penggunaan penggunaan mobil.

"Jadi kalau jumlah kendaraan semakin menyusut, konsumsi BBM pasti akan berkurang," kata Bayu.

(rhs)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini