nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Impor Migas Melonjak Hadapi Lebaran

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 17 Mei 2019 11:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 17 320 2056853 impor-migas-melonjak-hadapi-lebaran-TxJYtiUui4.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Pemerintah telah memperkirakan akan terjadi kenaikan impor minyak dan gas bumi (migas) guna memenuhi kebutuhan pada Ramadan dan Lebaran 2019.

Adapun nilai impor migas tercatat meningkat pada April 2019 dengan nilai mencapai US2,24 miliar. Angka tersebut meningkat 46,99% dari realisasi impor pada Maret mencapai USD1,52 miliar.

”Untuk menghadapi puasa dan Lebaran memang meningkat, tapi kita sudah upayakan untuk turun di neraca bulan ini,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto di Jakarta kemarin.

 Baca Juga: RI Stop Impor Avtur dan Solar

Dia tidak memungkiri jika kenaikan impor migas akan berdampak pada defisit neraca perdagangan migas. Meski begitu, upaya untuk mengatasi defisit dengan membeli minyak mentah langsung dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Apalagi, pihaknya telah mengupayakan pasokan solar dan avtur tidak dilakukan impor. ”Solar ini kan sudah mau berhenti impor. Solar dan avtur turun, crude juga turun impornya.

Sementara untuk gas kita kurangi ekspornya untuk dioptimalkan di dalam negeri,” kata Djoko. Terkait turunnya ekspor, Djoko enggan menitikberatkan persoalan tersebut pada tidak tercapainya lifting minyak.

Menurut dia, ekspor minyak turun karena produksi minyak dalam negeri semua dimaksimalkan untuk kebutuhan dalam negeri. ”Ekspor turun karena kita serap semua untuk kebutuhan dalam negeri. Di satu sisi juga kami mau optimalkan penggunaan gas dalam negeri, jadi ya ekspornya berkurang,” ujar Djoko.

 Baca Juga: Defisit Neraca Perdagangan April 2019 Terparah Sepanjang Sejarah

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menegaskan bahwa pada April 2019 PT Pertamina (Persero) sebagai BUMN pengimpor migas sudah tidak lagi melakukan impor avtur.

Pasalnya, Pertamina telah mampu memenuhi kebutuhan avtur dengan mengoptimalkan Kilang Cilacap. ”Mulai April ini kita sudah tidak lagi impor avtur. Kita telah optimalkan kilang,” kata dia.

Tak hanya itu, Pertamina pada Mei 2019 juga telah menghentikan impor solar. Pihaknya menandaskan bahwa penghentian impor solar disebabkan optimalisasi kilang dan jalannya program mandatori biodiesel 20% (B20).

”Solar mulai Mei juga sudah tak perlu lagi impor. Selama ini impor berkisar 12-15 juta barel,” kata dia.

Hal senada juga dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dia memastikan bahwa kenaikan impor migas disebabkan adanya peningkatan konsumsi energi.

Namun, peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan kenaikan produksi migas secara signifikan. ”Melihat volume permintaan memang meningkat dan tidak bisa turun karena pertumbuhan di atas 5%.

Sementara dari sisi produksi kalau dilihat masih cukup stagnan, sementara permintaan terus meningkat,” tandas dia. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat realisasi lifting minyak dan gas (migas) pada kuartal 1/2019 ini sebesar 1,8 juta barel setara minyak per hari.

Realisasi lifting tersebut mencapai 94,6% dari target yang dipasang APBN sebesar 2,2 juta barel setara minyak per hari. Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan pada April 2019 mengalami defisit sebesar USD2,5 miliar.

Defisit tersebut berasal dari defisit neraca dagang migas yang mencapai USD1,49 miliar. Sementara dari sisi ekspor migas hanya sebesar USD741,9 juta, sedangkan impor bahan bakar minyak (BBM) sebesar USD1,44 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini