nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Pahami Dulu Etikanya

Rani Hardjanti, Jurnalis · Selasa 21 Mei 2019 04:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 20 320 2057926 jejak-bisnis-nabi-muhammad-saw-pahami-dulu-etikanya-QpEKy8v0M7.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Nabi Muhammad SAW dalam menjual menjunjung etika dalam bisnis. Hal ini dianalogikan sebagai moral berbisnis adalah hal yang utama untuk seorang Rasulullah.

Nabi Muhammad SAW tidak sekadar menjual produk demi mengeruk keuntungan secara finansial tetapi lebih pada kenyamanan bertransaksi dan pelayanan yang diberikan saat bertransaksi.

Ada sebuah kisah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah melakukan transaksi dagang dengan menawarkan sebuah kain pelana dan sebuah bejana untuk tempat minum. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang ingin membeli kain pelana dan bejana air mimum?” Seorang laki-laki menawarnya dengan satu dirham, dan Nabi Muhammad SAW menanyakan apakah ada yang hendak menawar dengan harga yang lebih tinggi. Seorang lagi menawar dengan harga dua dirham, dan Nabi Muhammad SAW pun menjualnya pada orang itu.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibn Majah dari Anas).

 Baca Juga: Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Rahasia Sukses Menjadi Entrepreneur

Nilai yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah, Nabi Muhammad SAW selalu memberikan kemudahan dalam bertransaksi. Walaupun saat itu Nabi Muhammad SAW berada dalam posisi sebagai price maker, saat ia tidak dengan seenaknya menaikkan harga jual dari suatu barang. Dalam menjual Nabi Muhammad SAW berpegang teguh pada prinsip-prinsip berdagang yang ia miliki sehingga pada akhirnya dapat membawa keuntungan yang berlipat ganda sekaligus limpahan kebaikan. Berikut uraian selengkapnya, seperti dikutip Okezone dari buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad SAW, karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, terbitan Madani Prima, Selasa (21/5/2019).

1. Penjual tidak boleh mempraktikkan kebohongan dan penipuan mengenai barang-barang yang dijual pada pembeli.

Penipuan yang dimaksud di sini berkenaan dengan hal-hal seperti pengurangan timbangan, menukar barang yang hendak dibeli dan sumpah palsu.

 Baca Juga: Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Mulailah dengan yang Kanan

Anjuran ini juga berlaku pada kegiatan promosi. Periklanan yang semakin tidak memiliki kredibilitas telah diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW sejak abad ke 7.

2. Penjual harus menjauhkan diri dari sumpah yang berlebihan dalam menjual suatu barang.

Dalam mengiklankan produk atau jasa tidak dibenarkan untuk melakukan pembodohan dengan cara berdusta. Sebaik apa pun cara yang dipakai, sehalus apa pun bahasa yang digunakan, tetap sumpah yang berlebihan tidak akan membawa kebaikan dalam berdagang.

 Jejak Bisnis

3. Hanya dengan sebuah kesepakatan bersama, atau dengan suatu usulan dan penerimaan suatu penjualan akan sempurna.

Nabi Muhammad SAW sangat menghargai hak-hak individu dalam berdagang. Dari pihak pedagang maupun pihak pembeli. Dalam prinsip perdagangan yang digunakan olehnya, tidak ada satu pihak yang mempunyai keistimewaan yang lebih dari pihak yang lain. Kadang dalam transaksi jual beli ada satu pihak yang merasa dirugikan atau melakukan transaksi dengan sebuah keterpaksaan. Kesepakatan yang terjalin pun hanya ada pada satu pihak. Ketidaksempurnaan ini terjadi karena kedua pihak tidak ada yang mau mengalah.

Mengapa? Karena tidak adanya saling bermurah hati. Sikap murah hati ini tidak hanya berlaku untuk pengusaha tapi juga untuk customer.

Apabila telah terbentuk paradigma bermurah hati, kesempurnaan dalam transaksi pun akan menjadi nyata dan pada akhirnya tidak akan ada keluh kesah yang menjadi buntut dari jalannya sebuah transaksi.

4. Penjual harus tegas terhadap timbangan dan takaran.

5. Orang yang membayar dimuka suatu barang tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut menjadi miliknya.

6, Muhammad dengan tegas melarang adanya monopoli dagang.

7. Tidak boleh ada harga komoditi yang melebihi batas.

Ketujuh poin di atas telah dengan jelas mengatur tata cara berdagang yang baik. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila dua orang telah melakukan jual beli maka tiap-tiap orang dari keduanya boleh khiyar (memilih meneruskan jual beli atau tidak) selama mereka belum meninggalkan berpisah dan keduanya masih berkumpul, atau salah satu dari keduanya telah memberi khiyar pada yang lain dan keduanya telah melakukan jual beli atas dasar khiyar itu, maka sesungguhnya jual beli itu haruslah dilakukan atas yang demikian”. (HR. Bukhari).

Jika keduanya telah berpisah sesudah melakukan jual beli, sedang yang satu lagi belum meninggalkan (tempat) jual beli, maka jual beli itu harus berlaku demikian (setelah keduanya melakukan transaksi dan berpisah dari tempat jual-beli, maka tidak boleh ada lagi transaksi yang membatalkan perjanjian awal).

Kemudahan dalam bertransaksi menjadi anjuran Rasulullah. Nabi Muhammad SAW bersabda,“Pedagang yang baik adalah pedagang yang mudah dalam membeli dan mudah dalam menjual.” (HR. Bukhari, dari Jabir Ra.)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini