nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dibayangi Aksi 22 Mei, Rupiah Sore Ini Melemah ke Rp14.480/USD

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Selasa 21 Mei 2019 17:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 21 278 2058534 dibayangi-aksi-22-mei-rupiah-sore-ini-melemah-ke-rp14-480-usd-azgaO48GLT.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini semakin melemah dibayangi aksi 22 Mei 2019. Aksi ini timbul karena kubu pasangan presiden dan wakil presiden nomor urut 02 menganggap hasil pemilu curang meski KPU sudah mengumumkan hasil rekapitulasi suara.

Dilansir dari Bloomberg Dollar Index, Selasa (21/5/2019) pukul 17.15 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.480 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.462 per USD – Rp14.480 per USD.

 Baca Juga: Polri: Aksi 22 Mei Disusupi Kelompok Anarkis

YahooFinance juga mencatat mata uang Garuda itu melemah 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.475 per USD. Dalam pantauan YahooFinance, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.450 per USD – Rp14.479 per USD pada hari ini.

Bank Indonesia (BI) pun bereaksi terhadap pelemahan tersebut. Bank Indonesia hari ini terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah, baik di pasar spot maupun DNDF (domestic non delivery forward). Di bagian lain, BI juga menyampaikan penjelasan mengenai penyebab melemahnya rupiah.

Seperti diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinihari tadi mengumumkan hasil rekapitulasi Pemilu 2019. Sebagian menilai, pergerakan rupiah hari ini merupakan gambaran kekhawatiran pasar terkait penerimaan hasil pengumuman rekapitulasi tersebut.

"Meskipun pengalaman pemilu sebelumnya selalu berakhir dengan baik, tetapi tetap ada kekhawatiran di pasar," ujar Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra.

 Baca Juga: BI: Rupiah Dekati Rp15.000 karena Faktor Eksternal

Namun, tidak demikian menurut BI. pergerakan rupiah hari ini dinilai dikarenakan dampak dari sejumlah faktor eksternal. Salah satunya keputusan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang membatasi kerja sama bisnis dengan Huawei.

"Sejak pembukaan pasar tekanan pelemahan terhadap rupiah dari eksternal meningkat menyusul keputusan pemerintah AS yang membatasi kerja sama bisnis Huawei dengan sejumlah korporasi AS yang bergerak dalam bidang teknologi informasi," ujar Kepala Departemen Moneter BI Nanang Hendrasyah saat dihubungi.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini