JAKARTA - Raksasa e-commerce China, Alibaba Group Holding buka-bukaan soal perang dagang yang kembali memanas. Executive Vice Chairman Alibaba Joe Tsai menyatakan, Alibaba memiliki kinerja kuartal yang bagus, baik di bidang operasi, pendapatan, dan laba yang angkanya di luar perkiraan. Hasil ini membuktikan daya tahan usaha Alibaba di hadapan rumitnya keadaan politik dan ekonomi yang sedang dihadapi.
Dirinya memilah kompleksitas hubungan Amerika Serikat dan China untuk melihat posisi Alibaba dalam situasi tersebut.
"Secara singkat, wacana perdagangan yang ada menempatkan Alibaba di posisi yang tepat di segala isu," katanya seperti dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (31/5/2019).
Pertama, pengurangan neraca perdagangan Amerika Serikat. Komitmen China untuk membeli lebih banyak produk Amerika selama beberapa tahun mendatang akan menjadikan China sebagai negara pengimpor langsung.
Baca Juga: Ketegangan Perang Dagang Meningkat, China dan AS Mulai Saling Serang
Konsumen di China akan merasakan manfaat langsung dengan ketersediaan produk impor berkualitas dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari brand bisnis kecil, dan juga para petani Amerika.
"Pada hal ini, Alibaba memiliki posisi dan keadaan yang tepat untuk memanfaatkan peluang dari tren impor yang berkembang di China. Kami adalah platform pilihan bagi produsen global yang ingin memasuki pasar China karena kami memiliki pengetahuan mendalam akan 650 juta konsumen aktif China pada platform kami," katanya.
Dia menambahkan, skala dan efektivitas Alibaba dalam menjangkau konsumen China tidaklah tertandingi. Dalam perdagangan internasional, Tmall Global adalah platform nomor satu di China bagi para pedagang mancanegara. Mereka dapat menjual langsung pada konsumen China tanpa harus mendirikan sarana operasional fisik di sana.

Experience ini telah dirasakan oleh perusahaan internasional yang sudah membangun brand mereka dalam Tmall Global mencakup Chemist Warehouse, Blackmores, Pampers, dan juga Emporio Armani.
Kedua, negosiasi perdagangan yang ada akan mendorong China untuk membuka diri atas perdagangan luar demi memenuhi permintaan konsumen domestik yang terus berkembang pesat. "Kami tidak mencemaskan hal tersebut akan menurunkan perkembangan produk domestik bruto (GDP)," ujarnya.
Alasannya adalah ekonomi China akan bergeser dari berorientasi ekspor menuju berorientasi konsumsi domestik. Perkembangan lapangan kerja turut berperan besar dalam pemikiran ini. Dalam lima tahun terakhir, China memang kehilangan 14 juta pekerjaan manufaktur. Namun, pergerakan ekonomi China membuka 70 juta lapangan kerja di bidang pelayanan.