nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Calon PM Inggris Cari Cara Pajaki Google Cs

Jum'at 05 Juli 2019 08:25 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 05 20 2074878 calon-pm-inggris-cari-cara-pajaki-google-cs-90BahXGNnI.jpg Foto: Reuters

JAKARTA - Boris Johnson, kandidat utama untuk menggantikan Theresa May sebagai Perdana Menteri Inggris, mengatakan bahwa pemerintah harus menemukan cara untuk memajaki raksasa teknologi global atas pendapatan mereka.

"Saya pikir itu sangat tidak adil bahwa usaha-usaha di pinggir jalan raya membayar pajak melalui hidung sedangkan raksasa internet, Facebook, Amazon, Netflix, dan Google hampir tidak membayar apa-apa," kata Johnson pada acara hustings kepemimpinan di York, Inggris Utara seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Jumat (5/7/2019).

“Kita harus menemukan cara memajaki raksasa internet atas penghasilan mereka, karena saat ini itu tidak adil,” katanya.

 Baca Juga: Dengan Cara Ini Google Cs Tak Bisa Kabur Bayar Pajak

Sebelumnya, para menteri keuangan yang tergabung dalam forum G20 menyusun aturan guna menutup celah yang kerap dimanfaatkan perusahaan teknologi raksasa dalam mengurangi pajak korporasi. Salah satu aturan yang disusun bertujuan membebani pajak yang tinggi terhadap perusahaan teknologi multinasional.

Dalam pertemuan yang dilangsungkan di Fukuoka, Jepang, Juni lalu, para perwakilan dari 20 negara tersebut mengecam perusahaan teknologi dunia seperti Facebook, Google, Amazon serta lainnya sebab memotong tagihan pajak dengan membukukan keuntungan di negara-negara berpajak rendah tanpa memperhitungkan lokasi konsumen akhir.

 Baca Juga: Sri Mulyani: Semua Negara Pusing soal Pajak Google Cs

Dalam rancangan tersebut, Inggris dan Prancis menjadi dua negara yang paling vokal dalam mendukung proposal penetapan pajak kepada perusahaan teknologi raksasa dalam mempersulit menggali keuntungan di wilayah hukum berpajak rendah.

Kedua negara tersebut berselisih paham dengan perwakilan Amerika Serikat yang menuding kedua negara tadi memperlakukan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat diperlakukan tidak adil.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini