nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesona Pasar Modal Peringan Beban Utang Negara

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 08 Juli 2019 10:40 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 08 20 2075937 pesona-pasar-modal-peringan-beban-utang-negara-byDv8yrqAO.JPG Rupiah (Reuters)

JAKARTA - Pasar modal dapat disinergikan untuk meringankan beban utang luar negeri pemerintah dan swasta. Per akhir April 2019 utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD189,7 miliar serta utang swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) sebesar USD199,6 miliar.

“Solusi melunasi utang negara dan swasta dengan menggunakan struktur pasar modal bisa mempersingkat waktu penyelesaian utang. Bahkan ke depan bisa menjadi sumber pendanaan bagi pemerintah atau swasta,” ujar Senior Stock Trader & Block Investors Vier Abdul Jamal di Jakarta.

 Baca juga: Sri Mulyani Cerita soal Utang Pemerintah Rp4.571 Triliun

Dia mengatakan, kekuatan pasar modal Indonesia yang memiliki transaksi harian berkisar Rp8-10 triliun, tak bisa mengabaikan kontribusi BUMN yang sudah bercokol sejak lama di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebut saja misalnya PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Perseo) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Keempatnya pada 2017 masuk dalam 10 emiten dengan kapitalisasi terbesar pada 2017 dengan torehan Rp1.443 triliun per 29 Desember 2017.

 Rupiah

Kapitalisasi emiten BUMN terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Jika pada 2014 sebesar Rp1.339 triliun, melonjak menjadi Rp1.839 triliun per 29 Desember 2017.

 Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp5.566 Triliun pada April 2019, Naik 8,7%

Menurutnya, jika BUMN yang telah melantai di BEI melakukan aksi korporasi dalam penerbitan saham baru right issue atau hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dengan leverage 10 kali dan rasio 1:99, maka puluhan, bahkan ratusan triliun, lembar saham dapat dicetak dari proses ini.

Dengan asumsi masingmasing BUMN yang listing di BEI menerbitkan 250 triliun saham baru, maka dengan hanya empat perusahaan BUMN yang tercatat saja sudah bisa menerbitkan 1.000 triliun saham.

 Baca juga: Rating Utang dan Daya Saing Naik, Menko Darmin: Ini Mengurangi Tekanan Global

“Lalu, jika harga per lembar sahamnya naik menjadi dua kali lipat, maka dapat dipastikan mencetak 2.000 triliun,” paparnya.


Hasil aksi korporasi yang menghasilkan 2.000 triliun saham baru tersebut, tambahnya, dapat dicairkan dengan menjualnya ke pasar untuk diserap investor ritel maupun institusi. Negara dapat mengantongi minimal uang tunai Rp2.000 triliun.

Baca juga: S&P Naikkan Lagi Peringkat Utang RI, Begini Respons Bos BI


Struktur lainnya, jelas dia, adalah saham baru hasil right issue tersebut dapat dijadikan sebagai Asset Back Securities dalam menerbitkan National Bond yang dapat dijual murah misalnya Rp50.000 per unit.

Guna memuluskan strategi ini, seluruh bank pemerintah dan swasta bisa menjadi agen penjualan ke investor ritel dan institusi. National Bond yang diterbitkan memberikan tenor waktu tertentu misalnya tiga atau lima tahun dengan pilihan saat maturity date pembeli bond boleh memilih menebus bond tersebut kembali dengan uang tunai plus return yang telah dijanjikan di awal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini