Peremajaan Transportasi, Angkot Ber-AC Mulai Diuji Coba

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 08 Juli 2019 08:17 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 08 320 2075895 peremajaan-transportasi-angkot-ber-ac-mulai-diuji-coba-3Ws1mLMxTD.jpg Mobil AC (Driving.ca)

JAKARTA - Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mulai melakukan uji coba angkutan kota (angkot) ber-AC jurusan Tanah Abang-Kota, Jakarta Pusat dalam program Jak Lingko.

Ke depan program ini akan menjangkau 12.500 angkot di Jakarta. Kepala Seksi Bidang Angkutan Darat Dishub DKI Jakarta Fajar Nugrahaini mengatakan, akhir pekan lalu ada tiga angkot ber-AC yang tengah diuji coba dengan rute Tanah Abang-Kota. Berbeda dengan armada yang lama, tiga armada tersebut berjenis Toyota Avanza Transformers dan Nissan Grand Max.

”Ini merupakan bagian dari peremajaan angkot. Ke depan seluruh angkot harus ber-AC,” kata Fajar saat dihubungi.

 Baca juga: Angkot AC Hanya Cocok di Jakarta

Fajar menjelaskan, angkot baru itu akan menyesuaikan standar pelayanan minimal (SPM) sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 29 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek.

 Angkot ber-AC

Selain harus ber-AC, angkot juga wajib memiliki beberapa fasilitas lain seperti alat pemecah kaca, alat pemadam api ringan, alat penerangan, dan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Angkot juga diwajibkan ditempel stiker nomor telepon pengaduan dan larangan merokok.

 Baca juga: Tarif Angkot Online di Bekasi Rp5.000

Fajar mengatakan, ada beberapa operator berinisiatif menyediakan armada tersebut dan mau mengujicobakannya sambil mengetahui respons masyarakat serta biaya operasional yang dikeluarkan. Jika angkot ber-AC tersebut sudah mendapatkan biaya operasional dan mendapat respons positif, tarif rupiah per kilometer akan disesuaikan.

”Spesifikasinya masih kita kaji. Apakah memang menghadap depan semua atau seperti existing yang ada saat ini,” pungkasnya.

Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan menuturkan, pihaknya bersama seluruh anggota Organda, khususnya pengusaha mikrolet, berupaya memenuhi peraturan tersebut dengan melakukan survei di berbagai sektor. Baik dari segi operasional, kenyamanan, keamanan, maupun kemudahan pengguna dalam bermobilitas. Hasilnya, lanjut Shafruhan, pada awal 2018 disepakati bahwa pengganti mikrolet adalah kendaraan jenis minibus yang modelnya seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, dan sebagainya dengan kapasitas sekitar tujuh orang.

 Baca juga: Angkot Makin Jarang di Jakarta, Sepeda Motor Malah Menggurita

Kemudian, pertengahan tahun ini armada tersebut pun diaplikasikan yang salah satunya bermahkota nomor angkutan serta pintu yang terbuka secara otomatis.

”Kalau duduk berhadapan itu tidak nyaman, apalagi penumpang perempuan. Armada pengganti nantinya sangat layak. Untuk meningkatkan pelayanan itu kan kualitas, bukan kuantitas,” ungkapnya.

Shafruhan menilai program Jak Lingko yang menyentuh ke permukiman dan bahkan sampai depan rumah masyarakat sangat tepat. Untuk itu, pihaknya mengusulkan kepada Pemprov DKI Jakarta sebagai regulator dalam menata angkutan.

”Dari segi operasional perawatan tidak jauh berbeda dengan yang sekarang. Tinggal rerouting saja yang diperbaiki. Nah , itu kewenangannya ada di Dishub,” ujar Shafruhan.

Baca juga: Pebisnis Transportasi Umum Harus Siap Rugi dan Bayar Pajak


Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike meminta Pemprov DKI Jakarta mempermudah syarat revitali - sasi angkutan umum agar dapat mewujudkan angkot ber-AC. Dia melihat revitalisasi angkutan umum terhadap angkot dan bus sedang sangat lamban karena syaratnya mempersulit para pengusaha.

Politikus PDI Perjuangan itu menilai, angkot ber-AC merupakan suatu kewajiban agar dapat mengurai kemacetan dan memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Apalagi, angkot tersebut dilengkapi AC sehingga masyarakat benar-benar enjoy dan nyaman.

Baca juga: Simak! Ini Rencana Matang Tarif Angkutan di Jakarta Rp5.000


”Dengan ber-AC, minimal dapat meminimalisasi tingkat kejahatan karena pintu harus selalu ditutup. Tapi, proses peremajaan tidak boleh terlalu sulit syaratnya sehingga ada niat perbaikan dari para pengusaha,” pungkasnya.


Seperti diketahui, Pemprov DKI Jakarta tahun ini mencanangkan sebagai tahun integrasi transportasi publik, baik berjenis angkutan umum atau angkot maupun berbasis bus rapid transit (BRT).

Baca juga: Wah! Bahu Jalan di Tol Jakarta-Cikampek Jadi 'Jalur' Khusus untuk Angkutan Umum


Hal ini dilakukan karena Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menginginkan warga Jakarta bangga naik angkutan umum atau transportasi publik, tidak lagi bangga menggunakan kendaraan pribadi. Keinginan Gubernur DKI Jakarta tersebut kemudian dituangkan dalam program Jak Lingko, yang dulunya bernama One Karcis One Trip (OK Otrip).

Tidak hanya menambah armada Transjakarta baik koridor dan nonkoridor, perusahaannya juga menambah angkot yang bergabung dalam Jak Lingko.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini