nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

JK Soroti Kekalahan Krakatau Steel dari Baja Impor China

Kamis 11 Juli 2019 20:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 11 320 2077769 jk-soroti-kekalahan-krakatau-steel-dari-baja-impor-china-mxG41nlC9A.jpg Foto: Wakil Presiden Jusuf Kalla (Antara)

JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai faktor ketertinggalan teknologi produksi sebagai penyebab industri nasional gagal bersaing dengan industri global.

Wapres mencontohkan kerugian perusahaan nasional, PT Krakatau Steel, yang terjadi karena masih memakai teknologi yang usang dalam produksi bajanya.

"Bayangkan, Indonesia jual baja Rp8,4 juta per ton (USD600). Tapi China bikin Rp5,6 juta (USD400) per ton, kalau China jual dengan harga Rp7 juta (USD500) per ton, dia untung Rp1,4 juta (USD100), baja nasional jelas rugi," jelas Jusuf Kalla seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Kamis (11/7/2019).

 Baca Juga: DPR Pertanyakan Nasib Krakatau Steel

Wapres membandingkan teknologi PT Krakatau Steel dengan perusahaan baja asal China yang menurutnya lebih maju dalam hal teknologi.

"Krakatau Steel masih pakai teknologi lama, teknologi Jerman tapi usang. Makin banyak yang diproduksi, makin susah bersaing karena kalah sama teknologi baru China yang simpel," ujar dia.

Dengan revolusi industri 4.0, pemerintah bermaksud mendorong industri nasional mengembangkan teknologi produksinya sehingga bisa bersaing di pasar terbuka.

"Katakanlah di kita, pegawainya 600 sampai 800 orang satu pabrik. Tapi pabrik China hanya 70 orang karena semua sudah otomatisasi," ujar Wapres.

 Baca Juga: Bisnis Krakatau Steel Tak Sekuat Baja, Restrukturisasi Jadi Pilihan

Meski teknologi berkembang, Wapres mengatakan pemerintah menghadapi pilihan sulit karena kemajuan teknologi dalam industri juga mengandung resiko.

"Revolusi (industri) itu ada resikonya, resiko itu dinamakan efisiensi," ujar dia.

Selain teknologi yang usang, Wapres menilai harga jual pasar yang turun drastis menyebabkan pemerintah memilih mendorong perusahaan nasional melakukan efisiensi.

Masih mencontohkan industri baja, Wapres menyebut baja pernah menyentuh harga jual tertinggi sekitar Rp14 juta (USD1.000) per ton pada 2008.

"Sekarang sisa setengahnya," ujar dia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini