nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Persiapkan Diri Hadapi Perang Dagang Berkelanjutan hingga 2020

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 19 Juli 2019 19:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 19 20 2081153 bi-persiapkan-diri-hadapi-perang-dagang-berkelanjutan-hingga-2020-V4H1aHzNXc.jpg Ilustrasi Perang Dagang (Shutterstock)

MEDAN - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China diperkirakan akan berlanjut hingga 2020. Pasar menilai perang dagang dijadikan alat kampanye untuk pemilihan presiden di 2020.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, belum bisa diketahui kapan perang dagang Amerika Serikat dengan China (AS) berakhir. Namun bila melihat sikap Presiden AS Donald Trump, yang akan menaikkan tarif ekspor terhadap negara yang neraca perdagangannya surplus pada AS, maka perang dagang akan terus berlanjut.

 Baca juga: Perang Dagang AS-China Memanas, Dampaknya Makin Meluas

"Salah satunya India, Meksiko, dan beberapa negara seperti Vietnam, sudah ada rencana pemerintah AS untuk review kebijakan. Artinya pemerintah Amerika bisa mengharapkan keadilan dari perdagangan internasional. Kalau bisa ke suatu titik ini akan berhenti pada saat election Trump. Itu adalah alat untuk Trump memenangkan Pemilu," ujarnya, dalam Pelatihan Wartawan Ekonomi, di Medan, Jumat (19/7/2019).

 Perang Dagang

Dia melanjutkan, banyak media utamanya internasional yang menilai trade war sebagai alat kampanye bagi Trump di 2020. Dengan melihat hal tersebut, maka BI pun mulai melakukan antisipasi karena jelas ekonomi global akan melambat.

 Baca juga: Bank Sentral China: Perang Dagang Ancam Ekonomi Dunia

"Kita akan melihat seperti apa, kita lihat tahap I sampai 2020 masih akan menolong atau sesudahnya. Kita tak mengerti sampai kapan, tapi memang muncul (perang dagang sebagai alat kampanye Trump) secara di lebih banyak media Internasional," tuturnya.

Dalam mengantisipasi dampak perang dagang, Dody mengatakan, bahwa Bank Indonesia (BI) telah memutuskan menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Keputusan tersebut dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Untuk mendorong ekonomi tetap tumbuh maka bank sentral memutuskan turunkan suku bunga. Dalam posisi ini, BI mendapat gambaran lebih jelas ekonomi global melambat," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini