RI Bersaing Sengit Tarik Relokasi Pabrik China, dari Teknologi hingga Mebel

Selasa 30 Juli 2019 17:34 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 30 320 2085530 ri-bersaing-sengit-tarik-relokasi-pabrik-china-dari-teknologi-hingga-mebel-lcH4grzysY.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyebut Indonesia bersaing sengit dengan banyak negara dalam menggarap relokasi pabrik dari China akibat perang dagang dengan Amerika Serikat.

 Baca Juga: Investasi Rp560 Miliar, Perusahaan Perakit iPhone Buka Pabrik di Indonesia

Thomas menjelaskan pemerintah Indonesia melalui BKPM dan Kementerian Perindustrian terus gencar mendorong agar China mau merelokasi industri mereka ke Tanah Air.

Salah satu pemasok utama Apple, yakni Pegatron, telah berhasil merelokasi pabrik mereka ke Batam dengan menginvestasikan USD40 juta dan akan memghasilkan potensi ekspor hingga USD1 miliar per tahun.

"Kemenperin juga sedang komunikasi dengan satu pemasok Apple, yaitu Compal, untuk relokasi ke Indonesia. Ada dua pemasok utama Apple yang memilih ke India yaitu Foxconn dan Wistron. Memang kita menghadapi persaingan sengit untuk bisa menggarap relokasi pabrik dari China," ujarnya seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

 Baca Juga: Kepala BKPM: Lesunya Industri Automotif Buat Rawan PHK

Thomas menuturkan arahan untuk menggarap peluang relokasi pabrik dari Tiongkok karena imbas perang dagang telah diberikan langsung oleh Presiden Jokowi sejak triwulan III 2018.

Oleh karena itu, delegasi BKPM dan Kemenperin rutin berkunjung ke sentra mebel China di Dongguan agar bisa merelokasi pabrik mereka ke Indonesia.

Di sisi lain, terlepas dari imbas perang dagang, Thomas menyebut relokasi industri ke luar China sudah sepatutnya terjadi saat ini lantaran kondisi negeri tirai bambu yang disebutnya sudah tidak kondusif terhadap industri padat karya.

"Memang sudah waktunya China mengembalikan pabrik-pabrik yang dulu diambil dari negara-negara Asia Tenggara 20 tahun lalu. Jumlah tenaga kerja di China mulai berkurang, struktur perekonomiam China tidak lagi kondusif untuk industri padat karya. Sekarang mereka ke sektor jasa bernilai tinggi dan sektor padat modal," tutup mantan Menteri Perdagangan itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini