Investasi Rp560 Miliar, Perusahaan Perakit iPhone Buka Pabrik di Indonesia

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 30 Juli 2019 16:32 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 30 320 2085520 investasi-rp560-miliar-perusahaan-perakit-iphone-buka-pabrik-di-indonesia-0mSgKbrCix.jpg Foto: Apple

JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut perusahaan asal Taiwan, Pegatron sudah membuka pabriknya di Batam, Indonesia. Pegatron sendiri merupakan salah satu perusahaan perakit komponen iPhone.

 Baca Juga: Gandeng Xiaomi, Pegatron si Perakit iPhone Bakal Investasi di Indonesia

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, untuk membuka pabrik di Batam, Pegatron itu mengucurkan uang senilai USD40 juta atau sekitar Rp560 Miliar (mengacu kurs Rp14.000 per USD). Investasi Pegatron di Indonesia merupakan sesuatu yang positif karena bisa diikuti oleh perushaan asing lainnya.

"Kita juga sudah melihat salah satu supplier utamanya Apple, yaitu Pegatron mulai beroperasi di Batam, investasi sebesar USD40 juta," ujarnya saat ditemui di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

 Baca Juga: Perusahaan Pabrikan iPhone Masuk ke Indonesia, Menko Luhut Jamin Soal Perizinan

Selain berefek pada investasi, pabrik Pegatron ini juga akan berdampak pada neraca perdagangan Indonesia. Sebab, pabrik ini diprediksi akan menghasilkan produk ekspor senilai USD1 miliar per tahun.

Namun Thomas menyebut hal tersebut belum bisa terwujud pada tahun ini. Sebab, efekmya akan terasa pada waktu satu dua tahun mendatang.

"Kira-kira 2021-2022. Ini kan butuh waktu, mulai beroperasi pelan-pelan, diperkirakan mencapai USD1 miliar per tahun, eskpor per tahun untuk Pegatron," katanya.

Sebagai informasi sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan pada Mei 2019 memang telah memastikan perusahaan perakit iPhone tersebut berniat mengalihkan sebagian produksinya dari China ke Indonesia. Pegatron memindahkan basis produksi non-iPhone untuk menghindari tarif tinggi saat produk diekspor ke Amerikat Serikat.

Pasalnya, perakit komponen asal Taiwan tersebut terkena imbas dari perang dagang Amerika Serikat (AS)-China. Sehingga, tarif ekspornya lebih mahal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini