Share

Berkat Kurs, Rugi Bersih Smartfren Berkurang Jadi Rp1,07 Triliun di Semester I-2019

Rabu 31 Juli 2019 12:44 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 31 278 2085846 berkat-kurs-rugi-bersih-smartfren-berkurang-jadi-rp1-07-triliun-di-semester-i-2019-vTm9L2wbGj.jpg Rupiah (Okezone)

JAKARTA - Semester pertama 2019, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) membukukan kenaikan pendapatan 19,17% menjadi Rp 3,03 triliun. Angka tersebut dibandingkan pendapatan di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,54 triliun.

Pertumbuhan pendapatan emiten operator seluler ini ditopang layanan data yang berkontribusi 94,7% terhadap pendapatan total FREN meningkat 18,9% secara year on year (yoy), dari Rp 2,41 triliun menjadi Rp 2,86 triliun. Peningkatan pendapatan juga terjadi pada lini bisnis non-data, jasa interkoneksi, dan bisnis lain-lain yang masing-masing berkontribusi sebesar 4,3%, 0,7%, dan 0,3% terhadap total pendapatan FREN.

 Baca juga: Smartfren Telecom Konversi Obligasi Jadi Saham

Kenaikan pendapatan tersebut juga diikuti oleh peningkatan beban usaha FREN sebesar 10,43% yoy menjadi Rp 4,31 triliun. Pada periode sama tahun sebelumnya, FREN membukukan beban usaha sebesar Rp 3,9 triliun. Meskipun begitu, FREN berhasil mengurangi rugi usahanya, dari Rp 1,36 triliun pada semester I-2018 menjadi Rp 1,28 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Sepanjang semester I-2019, FREN juga tercatat mendapat keuntungan dari kurs mata uang asing, kenaikan penghasilan bunga, penurunan kerugian dari perubahan nilai wajar opsi konversi, penurunan beban bunga dan beban keuangan lainnya. Alhasil, rugi bersih perusahaan ini berkurang 35% yoy, dari Rp1,64 triliun menjadi Rp 1,07 triliun.

 Baca juga: Smartfren Siapkan Belanja Modal USD200 Juta Tahun Ini

Sebelumnya, Direktur Utama FREN, Merza Fachys pernah bilang, FREN baru akan mencapai break even point jika jumlah pelanggannya sudah mencapai dua kali lipat dari jumlah pelanggan tahun lalu yang sebanyak 13 juta pelanggan. Hingga akhir 2019, manajemen menargetkan jumlah pelanggan FREN bisa menembus 30 juta pelanggan atau meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan.

”Sepanjang tidak ada gangguan, kami harapkan saat pelanggan tumbuh dua kali lipat bisa break even point. Ya itu belum positif baru break even saja kalau dua kali lipat," kata dia.

Asal tahu saja, break even point adalah adalah sebuah titik yang mana biaya atau pengeluaran dan pendapatan seimbang sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan. Kendati bottom line FREN tahun ini diprediksi masih merah, manajemen memprediksi kinerja perusahaannya akan membaik. Apalagi jumlah akuisisi pelanggan baru juga terus bertumbuh. Jumlah pelanggan FREN mencapai 17 juta pelanggan per Mei 2019 dan hampir mencapai 19 juta pada akhir Juli ini.

Di semester kedua tahun ini, FREN menargetken bisa membangun 5.000 base transceiver station sekaligus menambah jumlah pelanggan 13 juta orang di semester kedua. FREN, lanjutnya, akan menempatkan BTS itu di daerah yang sudah eksisting dan sebagian kecil untuk menjangkau areal baru.”Kami ingin memperkuat jaringan di wilayah eksisting karena sudah mulai padat. Tapi juga kami ada perluasan ke daerah baru seperti Anambas dan Natuna. Dengan begitu, semoga pelanggan kami semakin banyak,”ujarnya.

Menurutnya, perseroan akan memprioritaskan area eksisting, sedangkan daerah baru akan menjadi pilihan kedua. Adapun cakupan FREN sejauh ini baru di Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Mengutip dari keterbukaan informasi, FREN memiliki 19.032 BTS di 200 kota.(neraca)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini