Perang Dagang AS-China Memanas Terbitlah Perang Mata Uang

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 07 Agustus 2019 11:09 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 07 20 2088778 perang-dagang-as-china-memanas-terbitlah-perang-mata-uang-bznP4VVMV7.jpg Foto: Yuan China

JAKARTA - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) berbalik menguat atau rebound terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), di tengah penurunan mata uang safe-haven termasuk yen Jepang dan franc Swiss.

Terkait hal itu, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump secara resmi menyebut China sebagai manipulator mata uang, sebuah pernyataan yang meningkatkan ketegangan perang dagang lebih jauh.

"Sikap tersebut disampaikan Washington setelah Bank Sentral China (PBOC) dengan sengaja membiarkan nilai yuan jatuh terhadap dolar AS sebagai bentuk balasan atas tarif impor Presiden AS Donald Trump," kata dia kepada Okezone, Rabu (7/8/2019).

 Baca Juga: Perang Mata Uang Bisa Bikin Defisit Neraca Perdagangan RI Melebar

Kini perang dagang sepertinya sudah naik kelas, bertransformasi menjadi perang mata uang. Jika praktik yang dilakukan China ditiru oleh negara lain demi menggenjot ekspor, maka akan terjadi devaluasi mata uang secara kompetitif. Perang mata uang sudah di depan mata.

"Kita lihat secara terpisah, China juga mengumumkan bahwa mereka akan berhenti membeli produk pertanian AS, sehari setelah media milik pemerintah mengatakan Beijing tidak akan diganggu dan akan "melawan balik." Langkah ini sebagai pembalasan kepada Presiden AS Donald Trump mengancam tarif baru semua barang China sebesar USD300 miliar yang akan berlaku 1 September 2019," tutur dia.

 Baca Juga: Perang Dagang Jatuhkan Harga Minyak Dunia

Dia menuturkan Bank Indonesia terus mengamati kondisi global yang terus memburuk dan terus melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi negara melalui pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forwards), sedangkan lelang dibuka pukul 08.30 WIB dan terus intervensi sampai peutupan pasar. Walaupun mendapat pengawalan ketat dari BI, Rupiah tidak kuasa lepas dari jeratan zona merah. Pasalnya, sentimen negatif dari luar begitu luar biasa.

Sementara itu, survei konsumen BI pada Juli 2019 mengindikasikan kepercayaan konsumen tetap terjaga, di mana (IKK) Indek Keyakinan Konsumen tetap berada pada level optimis yaitu sebesar 124,8, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 126,4.

"Optimisme konsumen yang tetap terjaga itu ditopang oleh ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan yang membaik, yang terindikasi oleh Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) yang meningkat sejalan dengan tetap kuatnya ekspektasi konsumen terhadap kenaikan penghasilan ke depan," ujar dia.

Perselisihan antara dua ekonomi terbesar dunia ini dengan cepat berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya dan berhasil mengguncang pasar dalam.

Transaksi pada, Selasa 6 Agustus 2019, Rupiah sempat melemah ke level 14.350 karena imbas dari data eksternal yang cukup kuat tetapi dalam sesi siang rupiah kembali tertahan pelemahannya. Karena data internal yang terus melakukan intervensi sehingga rupiah sempat terkoreksi di Rp14.255 walaupun ditutup masih melemah di bandingkan penutupan kemarin.

"Perselisihan antara dua ekonomi terbesar dunia ini dengan cepat berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya dan berhasil mengguncang pasar. Range untuk Rupiah hari ini Rp14.237-14.335," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini