nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sri Mulyani Buka-bukaan Curangnya Peserta BPJS Kesehatan

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 09 Agustus 2019 10:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 09 320 2089713 sri-mulyani-buka-bukaan-curangnya-peserta-bpjs-kesehatan-JOfKwsBFMs.jpg Foto: Sri Mulyani soal BPJS Kesehatan (Taufik/Okezone)

JAKARTA - Sejak beroperasi pada 1 Januari 2014, kinerja keuangan Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus sakit dari tahun ke tahun. Pada tahun lalu, defisit BPJS Kesehatan tercatat sebesar Rp9,1 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa asuransi di Indonesia memang masih sangat kurang. Di mana masih banyak warga negara Indonesia yang mengganggap asuransi bukan hal yang penting.

"Contohnya kayak ibu saya sendiri. Saat ibu masih hidup, saya menyarankan agar ikut program asuransi. Tapi justru sarannya ditolak. Ibu saya bilang 'selama ini kita selamat dan saya enggak pernah beli asuransi'. Asuransinya dari gusti Allah," ujar dia pada acara Breakfast Forum Iluni FEB UI di Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Baca Juga: Menko PMK: Rencana Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Tengah Dimatangkan

Sri Mulyani menjelaskan bahwa kesadaran untuk ikut asuransi di Indonesia masih sangat rendah. Padahal Indonesia adalah negara ring of fire yang sangat rentan terjadi bencana alam dan orang Indonesia lebih memilih beli pulsa ketimbang bayar premi asuransi.

"Kita lebih sering membeli pulsa dari pada beli BPJS Kesehatan. Jadi kita lihat rumah tak diasuransikan, mobil tak diasuransikan dan, kesehatan juga tidak," kata dia.

 Baca Juga: Defisit BPJS Kesehatan Bisa Rp28 Triliun, Sri Mulyani Endus Adanya Kecurangan

Kemudian, lanjut dia, beberapa peserta BPJS Kesehatan yang hanya mendaftar ketika sedang sakit. Tetapi setelah sehat mereka tak lagi mau membayar iuran.

"Banyak sekarang orang hanya beli kartu BPJS untuk jadi anggota pas mau masuk rumah sakit saja. Habis itu dia tak mau angsur lagi. Seolah itu sudah menjadi urusan Bu Menkeu, kalau saya sakit tagihannya," katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, potensi defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan hingga akhir tahun yang mencapai Rp28 triliun karena adanya indikasi fraud atau kecurangan.

Dia menyatakan, indikasi kecurangan itu berasal dari klaim yang berlebihan (overclaim) pada layanan BPJS Kesehatan. Mulai dari data kepesertaan, sistem rujukan antara Puskesmas dengan rumah sakit, hingga sistem tagihan. Itu semua perlu dilakukan perbaikan.

"Masih ada beberapa indikasi kemungkinan terjadi fraud, perlu di-address," ungkapnya ditemui di Kompleks BI, Jakarta.

1
2

Berita Terkait

BPJS Kesehatan

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini