Hoesen menyatakan, pendanaan dari asing merupakan hal yang masih dibutuhkan Indonesia, namun hal itu perlu diimbangi dengan investasi dari domestik. Sehinga dengan adanya pendalaman pasar surat utang diharapkan investor asing dan domestik bisa tumbuh secara seimbang.
"Kita lakukan pendalaman pasar, membuat beberapa strategi untuk memperluas akses masyarakat daerah. Harapannya basis investor domestik semakin banyak," katanya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, peranan modal asing terhadap investasi kebanyakan dalam jangka pendek (short term investment) berbentuk SBN. Menurutnya, instrumen itu bersifat rentan terhadap guncangan faktor eksternal, termasuk pelemahan ekonomi global.
Oleh sebab itu, dirinya ingin kontribusi modal asing 'berbalik arah' menjadi ke investasi jangka panjang. Sedangkan dari sisi domestik, perlu meingkatkan inklusi keuangan, sehingga semakin banyak dana masyarakat yang disimpan pada sektor keuangan formal.
"Mengurangi ketergantungan (dana asing) tersebut, tentu bukan pekerjaan jangka pendek. Tetapi harus sedikit demi sedikti dikurangi," kata dia di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8/2019).
Sekedar infromasi, berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, hingga 9 Agustus 2019 porsi kepemilikan asing di SBN sebesar Rp1.005,64 triliun, atau setara 38,70% dari total seluruhnya Rp2.598,63 triliun. Meningkat dari periode yang sama di tahun 2018 yang sebesar Rp845,76 triliun atau setara 37,62% dari seluruh SBN sebesar Rp2.238,74 triliun.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.