nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Net TV, Rhenald Kasali: Tersaingi Youtube dan Instagram

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 13 Agustus 2019 11:53 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 13 320 2091250 fenomena-net-tv-rhenald-kasali-tersaingi-youtube-dan-instagram-a1Hn0jeAAl.jpg Rhenald Kasali (Foto: Ist)

JAKARTA - Net TV tengah melakukan perampingan karyawan sebagai imbas dari upaya perusahaan dalam menyusun strategi dan penataan lingkungan kerja. Perusahaan televisi itu menawarkan pegunduran diri terhadap karyawannya.

Praktisi Bisnis Rhenald Kasali menilai, kondisi yang dialami Net TV karena minimnya iklan yang di dapat, padahal itu sumber penerimaan yang besar. Akhirnya, membuat kinerja keuangan perusahaan memburuk.

Dia menjelaskan, Net TV merupakan stasiun televisi yang menghasilkan program dengan ongkos yang mahal. Kebutuhan biaya produksi hingga biaya gedung perkantoran membuat tarif iklan yang ditawarkan sangat mahal.

Baca Juga: Isu PHK Massal, Direksi Net TV : Kami Tawarkan Pensiun Dini

Padahal, di sisi lain hadir televisi generasi baru lewat digitalisasi, dengan ongkos produksi yang jauh lebih murah. Sehingga, membuat tarif iklan yang ditawarkan lebih bersaing.

"Jadi pendekatan produksi program-program TV menjadikan tarif iklan mahal. Digantikan oleh sosial media, oleh para youtuber, Google dan Instagram. Di mana mereka tak produksi sendiri programnya, cukup mengorkestrasi," ujarnya kepada Okezone, Selasa (13/8/2019).

Persaingan menggaet iklan pun terjadi antara media konvensional seperti Net TV yang bergerak di layanan televisi free to air (FTA), alias televisi tak berbayar, dengan media digital lewat media sosial. Tak dipungkiri, saat ini iklan sudah banyak beralih ke konten digital.

"Sehingga saat ini semua televisi mengalami penurunan pendapatan dan menyaksikan munculnya model baru yang tanpa fixed cost," kata dia.

Baca Juga: Tawarkan Karyawan Pensiun Dini, Bagaimana Nasib Bisnis Net TV Selanjutnya?

Oleh sebab itu, Rhenald menekankan, Net TV kini tengah menghadapi tekanan perkembangan teknologi yang mendisrupsi model bisnis. Era ini disebutnya #MO, yang diartikan bisnis masa kini harus mengkuti mobilisasi dan orkestrasi ekosistem data.

"Era ini membuat televisi dengan model heavy investment dan heavy assets tergantikan oleh televisi baru yang mengandalkan teknologi dan light asset," katanya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini