JAKARTA - PT MRT Jakarta ogah membicarakan kompensasi kerugian yang harus dibayarkan PT PLN (Persero) akibat padamnya listrik (blackout) beberapa waktu lalu. Padahal, total kerugian MET Jakarta mencapai Rp507 juta akibat pemadaman listrik tersebut.
Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, permasalahan tidak hanya melulu tentang pembayaran kompensasi saja. Melainkan juga banyak hal-hal lain yang merugikan dan tidak dapat dihitung dengan angka.
Baca juga: MRT Jakarta Minta PLTD Senayan Standby 24 Jam
Menurut William, reputasi MRT Jakarta dan pelayanan ke penumpang pun menjadi taruhannya. Apalagi MRT Jakarta sebagai perusahaan tansportasi baru yang saat ini keberadaanya sedang di gandrungi.

“Kami nggak bicara kompensasi di sini, karena persoalannya kan kita kehilangan banyak sekali hal-hal yang tidak bisa dihitung ya, soal reputasi, soal penumpang yang mengalami kerugian, itu gitu," ujarnya di Wisma Nusantara, Jakarta, Kamis (15/8/2019).
Baca juga: Cegah Mati Listrik, MRT Jakarta Belajar dari Korea
Menurut William, saat listrik padam, kereta MRT sampai ada yang berhenti di jalur bawah tanah dengan penumpang terjebak di dalamnya. Bahkan penumpang pun harus segera dievakuasi.
"Kalau menggunakan mekanisme kompensasi PLN kan itu tidak menggambarkan sebenarnya the big think kerugian yang kita terima ya. Yang kita ingin minta adalah komitmen PLN untuk memberikan jaminan bahwa tidak terjadi lagi hal-hal yang seperti kemarin," jelasnya.