nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Angola Kepincut Beli 10 Kereta Made in Indonesia

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 19 Agustus 2019 17:56 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 19 320 2093923 angola-kepincut-beli-10-kereta-made-in-indonesia-K7Edrzbyet.png Foto: Inka Ekspor Kereta (Ist)

JAKARTA - PT Inka (Persero) tengah mengincar pasar Afrika untuk ekspor kereta api. Ada beberapa negara di Afrika yang akan dijadikan pasar ekspor.

Perseroan saat ini mengincar kontrak dari gelaran Indonesia-Africa Infrastructure Forum Dialogue (IAID) yang digelar di Bali pada 20-21 Agustus 2019.

 Baca Juga: Tahun Depan, Indonesia Akan Miliki Pabrik Kereta Terbesar di Asia Tenggara

Direktur Utama Inka Budi Noviantoro mengatakan, negara-negara di Afrika mengaku sangat membutuhkan infrastruktur kereta api. Bahkan ada beberapa negara seperti Senegal hingga Kamerun itu saat ini sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur kereta api.

"Afrika itu setelah ada Indonesia-Afrika forum, saya datang ke sana cuma saya sendirian, saya ke Kamerun, ke Senegal, ke Mali. Kata kunci mereka butuh untuk sarana angkutan kereta api,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (19/8/2019).

Selanjutnya menurut Budi, negara Afrika yang intens melakukan komunikasi terkait pembangunan kereta ialah Angola. Bahkan, Angola siap membeli 10 kereta seperti Kereta Rel Listrik (KRL) di Indonesia.

"Angola intens ini Pak Dubesnya, dia kepengen beli 10 kereta seperti KRL Jabodetebek. Satu trainset 3 kereta sebetulnya, ini nanti besok kita tidak lanjuti, termasuk minta bantu men-setup workshop dia yang baru tapi tidak operasi," ujarnya.

 Baca Juga: Selain Bangladesh, Inka Bakal Ekspor Kereta ke Filipina hingga Madagaskar

Namun upaya tersebt tidak mudah. Pasalnya, negara tersebut meminta agar kereta bisa tersedia pada Mei 2020.

"Cuma pertanyaannya, dia minta satu trainset Mei 2020 selesai, ya enggak mungkin, buat kereta berpenggerak paling cepat 18 bulan. Tambah perjalanan 1 bulan. Ini diskusi buat Pak Dubes. Begini prinsipnya, kalau punya komoditas barang yang banyak masuk, mungkin skema BOT, tapi kalau dia punya uang jual putus, sarana saja. Angola kayaknya punya dana, beli putus," kata Budi.

Selain itu lanjut Budi, negara-negara di Afrika juga berbeda dari yang lain, karena beberapa hambatan yang membuat pihaknya sulit masuk. Adalah negara-negara tersebut tak bisa melakukan beli putus.

“Tapi, mohon maaf ya, situasi negaranya tak mungkin beli cash, beli putus kira-kira," ucapnya.

 Jalur Kereta

Meskipun begitu lanjut Budi, pihaknya bersama BUMN lain seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Len Industri (Persero), dan Indonesia Eximbank akan mencoba masuk dengan mengatasi persoalan tersebut. Bahkan akan ada salah satu BUMN lagi yaknk PT Timah hang akan mencoba masuk ke pasar Afrika.

Menurut Budi, untuk masuk ke Afrika akan menggunakan skema build operate transfer (BOT). Lewat skema ini, perusahaan tidak menjual barang ke Afrika tapi investasi di sana.

"Untuk Afrika, kita bentuk WIKA, Len dan INKA saat ini, ya masih berkembang, tapi disupport Eximbank. Tapi tidak menutup kemungkinan PT Timah masuk, tergantung situasi," katanya.

 Jalur Kereta

Skema ini sudah dicoba di beberapa negara seperti Madagaskar, negara ini punya tambang. Di sisi lain, negara ini membutuhkan kereta untuk mendukung produksinya.

"Kita masuk mulai dari mendesain, membangun, mengadakan sarananya, pengawasan operasinya, pendanaan karena Exim masuk di sana," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini