nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perlambatan Ekonomi China Vs Banjirnya Pengusaha Milenial

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Senin 16 September 2019 09:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 16 320 2105265 perlambatan-ekonomi-china-vs-banjirnya-pengusaha-milenial-ChdFhUjsm3.jpg Taobao Maker Festival Alibaba. (Foto: Okezone.com/Dani Jumadil)

JAKARTA - Kalau bicara China, tentu banyak hal menarik dari Negeri Tirai Bambu ini. Pernah mencatatkan rekor pertumbuhan ekonomi double digit, namun perlahan-lahan ekonomi China terus merosot ke level terendahnya sejak tahun 1990-an.

Tercatat, ekonomi China pada 2018 sebesar 6,6%. Capaian ini terendah dalam 28 tahun terakhir atau sejak 1990.

Sementara pada kuartal II-2019, ekonomi China di level 6,2%, sedikit lebih rendah daripada ekspansi pada kuartal sebelumnya di level 6,4%.

Baca Juga: Gaya Hidup Tinggi Bikin China Impor Besar-besaran

Terlebih lagi dengan perseteruan yang belum usai dengan Amerika Serikat (AS) membuat ekonomi China tak karuan.

Namun, di balik semuanya itu, China sudah menjelma sebagai negara maju dengan kecanggihan teknologinya. Hal ini dapat dilihat dari kelahiran Alibaba Group, besutan Jack Ma yang berhasil membangun sebuah sistem teknologi ke semua lini.

Alibaba

Alibaba didirikan Jack Ma pada 1999 dan kini usianya tepat 20 tahun. Alibaba merupakan perusahaan e-commerce yang sudah bertranformasi menjadi perusahaan dunia yang juga bergerak di sektor pembiayaan, teknologi, cloud computing hingga new ritel.

Selama lima hari, Okezone berkesempatan mengunjungi kota Hangzhou, provinsi Zheijang di China. Saat tiba di Hangzhou, sudah terlihat bagaimana kota ini tertata rapi dengan perkembangan teknologi yang lebih pesat.

Baca Juga: Belanja Serba Digital di China, Pesan Online dan Bayar Pakai Wajah hingga Senyum

Sebab, Hangzhou salah satu pusat teknologi dan rumah bagi raksasa e-commerce Alibaba.

Meski masih melihat kemacetan, tapi kemacetan di kota ini turun drastis ketika menggunakan teknologi dari Alibaba yakni City Brain. Sebelumnya Hangzhou merupakan kota termacet nomor 5 di China, sekarang sudah turun ke peringkat 57.

Okezone datang ke Hangzhou, China memenuhi undangan dari Alibaba Group untuk melihat acara kreator pengusaha milenial atau generasi Z Taobao Maker Festival (TMF) 2019. Acara ini digelar selama dua minggu, mulai 12 September hingga 25 September 2019 yang berlokasi di Hangzhou Boiler Factory dan West Lake.

Taobao Meker Festival Alibaba

Hangzhou Boiler Factory merupakan bekas pabrik yang sudah tidak beroperasi lagi tapi disulap menjadi tempat perang ide kreativitas. Tentu atmosfernya sangat berbeda jika memasuki pabrik ini.

Pemilihan tempat yang tidak lazim ini mengasah kreativitas generasi milenial China untuk semakin berani menampilkan produk yang luar biasa.

Jika kita bandingkan dengan acara serupa tapi tak sama di Indonesia, tentu akan digelar di tempat yang nyaman seperti JCC, JI Expo maupun ICE BSD

Acara tahunan yang digelar Alibaba sudah menjadi tahun keempat menghadirkan 400 kreator muda yang memiliki ide gila di berbagai sektor, mulai teknologi, fashion, makanan hingga warisan budaya.

Produk yang ditampilkan seperti baju robot ala Iron Man, robot berbentuk hiu hingga wayang tradisional China yang dalangnya bukan manusia tapi mesin yang diprogram untuk bekerja sebagai dalang.

Taobao Meker Festival Alibaba

Chief Marketing Officer Alibaba Group Chris Tung mengatakan, Alibaba Group menemukan fakta-fakta menarik di Taobao Marketplace yang sangat populer di kalangan milenial dan generasi Z. Bahwa orang yang lahir setelah tahun 1990-an, kebanyakan sudah mempunyai toko sendiri di Taobao. Tapi, mereka tidak hanya tertarik untuk berjualan dan bertransaksi saja. Lebih dari itu, mereka ingin memperkenalkan diri dan membuat koneksi khusus dengan para pembeli.

"Ini adalah sebuah tren besar di China. Banyak sekali anak muda yang ingin memproduksi sesuatu, dengan mengandalkan kreativitas, passion, dan minat mereka," kata Chris.

Melihat lebih dalam lagi, kemajuan teknologi bukan hanya dirasakan oleh kalangan milenial, tetapi keseluruh lini masyarakat di Hangzhou pada khususnya.

Terlihat pada teknologi yang diterapkan di hampir seluruh pasar tradisional, salah satunya Luo Jia Zhuang Wet Market. Pasar ini sangat bersih dan tidak becek. Lagi-lagi teknologinya bikin geleng-geleng kepala, sebab pengunjung bisa melihat seluruh produk yang dijual di monitor, sehingga bisa diketahui asal muasal barang ini. Pembayarannya pun sudah menggunakan aplikasi.

Tak hanya teknologi di pasar tradisional, salah satu supermarket di Hangzhou tidak kalah canggihnya. Supermarket premium ini bernama Freshippo. Freshippo adalah contoh dari keberhasilan model new ritel yang dibentuk oleh Alibaba sejak 2015.

Pasar digital alibaba

Konsep new ritel memang tengah digalakkan Alibaba sebagai jawaban menggabungkan ritel offline dengan online. Konsep ini terus dibangun juga oleh Alibaba di Alimall. Beberapa gerai di Alimall sudah menerapkan konsep new ritel.

Sementara itu, penggunaan robot juga sudah mulai diterapkan di sektor perhotelan. Robot ini mampu melayani tamu dengan mengantarkan barang ke kamar sesuai permintaan.

Selain itu, sistem hotel di FlyZoo milik Alibaba ini juga menerapkan speaker pintar. Speaker pintar ada di seluruh kamar hotel yang berfungsi sesuai perintah suara kita seperti ingin menyalakan televisi, menutup gorden hingga mematikan lampu.

Kemajuan China dalam sektor transportasi juga dapat dilihat dari penggunaan mobil dan motor listrik. Kendaraan ini sudah berlalu-lalang dan menjadi kendaraan andalan masyarakat China.

Terlebih lagi, kendaraan listrik ini bisa ngecas di rumah layaknya handphone, sehingga tidak perlu ke ngisi listrik ke 'SPBU' listrik.

Pakar inovasi dan kreativitas Yoris Sebastian mengatakan, saat ini China bukan lagi berkutat dengan produk made in China, melainkan desain by China.

Penampakan Kendaraan Listrik Nge-charge di China

Untuk itu Yoris menekankan peningkatan level kreativitas agar mampu bersaing dengan produk lainnya yang berujung sumber pendapatan negara.

Di Indonesia sendiri acara seperti Taobao Maker Festival sudah banyak, tapi konsepnya berbeda.

Di Indonesia bagaimana pengusaha tersebut mampu menjual produk sebanyak-banyaknya dan mendapatkan profit. Tapi berbeda dengan China, pengusaha di sini hanya ingin showcase produknya walaupun pada akhirnya akan ada transaksi.

Penampakan Kendaraan Listrik Nge-charge di China

Jika urusan kreativitas, Yoris pede Indonesia bisa bersaing dengan China. Namun, memang perlu infrastruktur yang kuat dan mendukung ide-ide kreativitas dari anak muda Indonesia.

Peran pemerintah sangat diperlukan untuk menampung ide-ide kreativitas pengusaha muda Indonesia. Dukungan yang paling nyata bisa dalam hal regulasi dan mudahnya mendapatkan pendanaan dari perbankan.

"Contoh di Thailand, dia sudah mempunyai pusat desain, jadi semua bahan baku bisa diambil dari sini," katanya

Seperti yang diketahui, banyak pelaku usaha yang kesulitan mendapatkan akses permodalan karena terlalu ruwet izin mendapatkan modal.

Perkembangan dunia digital harus dapat dimanfaatkan kreator dari generasi milenial Indonesia jika ingin cepat maju.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini