nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Loh Proses Go Public

Sabtu 21 September 2019 10:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 20 278 2107139 ini-loh-proses-go-public-dEXY2SAcE3.jpg Proses Go Public (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Menjadi perusahaan terbuka yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memperkuat citra perusahaan. Karena, tidak sembarangan perusahaan bisa masuk lantai bursa. Perusahaan harus memenuhi persyaratan good corporate governance (GCG) dan mengikuti tahapan go public.

Apa itu go public? Initial Public Offering (IPO) atau disebut dengan istilah Go Public adalah salah satu strategi bagi perusahaan untuk mengembangkan usaha, melakukan ekspansi atau memperkuat pemodalan.

 Baca Juga: Keterbukaan Informasi Perusahaan Tercatat

Perusahaan akan memperoleh dana hasil IPO atau penawaran saham perdana dari publik atau masyarakat. Perusahaan yang sudah melakukan IPO dan mencatatkan saham di BEI disebut Perusahaan Tercatat.

Sebelum melakukan IPO, perusahaan harus mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan para pemegang saham dalam rangka go public. Setelah mendapat persetujuan, perusahaan akan menunjuk penjamin emisi serta lembaga dan profesi penunjang pasar modal yang terdaftar di Otoritas Jasa Kenuangan (OJK) untuk membantu proses go public.

 Baca Juga: Kemudahan Perusahaan dengan Aset Skala Kecil dan Menengah untuk Melantai di Bursa

Penjamin Emisi (Underwriter) membantu perusahaan dalam rangka penerbitan saham. Kegiatan yang dilakukan penjamin emisi antara lain membantu menawarkan saham perusahaan ke sejumlah investor, membantu perusahaan dalam menyiapkan berbagai dokumen, membantu melakukan penyusunan prospektus, serta menunjuk sejumlah perusahaan efek sebagai agen penjual saham perdana perusahaan. Underwriter juga memberikan penjaminan pembelian atas penerbitan saham perusahaan.

 Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen

Selanjutnya, perusahaan menyiapkan laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh auditor external. Jika diperlukan, perusahaan menunjuk profesi Penilai untuk melakukan penilaian terhadap aktiva tetap perusahaan dan menentukan nilai wajar dari aktiva tetap tersebut. Namun tidak semua proses IPO menggunakan Jasa Penilai.

Perusahaan juga melibatkan konsultan hukum Pasar Modal untuk memberikan pendapat dari segi hukum (legal opinion). Notaris juga diperlukan untuk membuat akta-akta perubahan anggaran dasar, akta perjanjian-perjanjian dalam rangka penawaran umum, dan notulen-notulen rapat.

Langkah berikutnya adalah pengajuan pendaftaran. Pada tahap ini, perusahaan menyampaikan dokumen dalam rangka pernyataan pendaftaran kepada OJK dan permohonan pencatatan saham ke BEI. Setelah dilakukan evaluasi oleh BEI dan OJK maka perusahaan akan mendapatkan pernyataan efektif dari OJK dan persetujuan prinsip pencatatan dari BEI, selanjutnya perusahaan bisa melakukan IPO.

Barulah selanjutnya masuk ke tahap penawaran saham. Tahapan ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah Perusahaan menawarkan saham kepada masyarakat. Masyarakat atau investor dapat membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang telah ditunjuk.

Jika permintaan saham dari masyarakat ternyata lebih besar dari jumlah saham yang ditawarkan melalui IPO, maka tidak seluruh investor akan mendapatkan jatah saham yang dipesannya. Kelebihan permintaan dalam penjualan saham perdana disebut oversubscribed. Jika kondisi ini terjadi, maka akan dilakukan penjatahan (allotment).

 IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini

Langkah terakhir adalah pencatatan saham di BEI. Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya saham tersebut akan dicatatkan di BEI dan saham perusahaan akan berada di penitipan saham kolektif PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Investor yang tidak kebagian saham Perusahaan Tercatat di pasar perdana, bisa membeli di pasar sekunder melalui mekanisme pembelian saham di BEI.

Bagi Perusahaan Tercatat, ada banyak manfaat dari aktivitas go public, yakni pendanaan tanpa batas, meningkatkan kinerja, meningkatkan citra perusahaan, profesionalisme dan loyalitas karyawan, likuiditas saham untuk pemilik perusahaan, karyawan dan investor, meningkatkan GCG, menghindari kemungkinan perpecahan pemilik, mendapatkan insentif pajak, mendapatkan mitra usaha strategis, menciptakan kemandirian perusahaan, dan meningkatkan nilai perusahaan.

Perusahaan Tercatat dapat memperoleh pemotongan tarif PPh Badan (corporate income tax) sebesar 5%, dari 25% menjadi hanya 20%. Dengan syarat, selama 183 hari perusahaan harus mempertahankan porsi kepemilikan saham publik sebesar 40%. porsi publik tersebut minimal dimiliki oleh 300 pihak dengan porsi kepemilikian tiap pihak maksimal 5%.

Pajak penjualan saham Perusahaan Tercatat melalui BEI juga lebih rendah dibanding perusahaan tertutup (non Tbk). Penjualan saham perusahaan tertutup oleh perorangan tarifnya antara 5-30% dari keuntungan penjualan, sementara penjualan saham perusahaan non Tbk oleh perusahaan dikenakan pajak 30% dari keuntungan penjualan.

Bandingkan dengan pajak penjualan saham Perusahaan Tercatat di BEI yang hanya sebesar 0,1% (dari nilai bruto transaksi) untuk saham bukan milik pendiri, dan 0,1% dari (nilai bruto transaksi) + 0,5% (dari nilai saham) untuk penjualan saham Perusahaan Tercatat milik pendiri. (TIM BEI)

 IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini