nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Penerimaan Pajak Seret, Nomor 2 Pemicunya

Rizqa Leony Putri , Jurnalis · Senin 30 September 2019 06:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 28 20 2110515 fakta-penerimaan-pajak-seret-nomor-2-pemicunya-UMXnt0Bw3M.jpg Ilustrasi Penerimaan Pajak (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak mencapai Rp801,16 triliun hingga akhir Agustus 2019. Realisasi ini hanya tumbuh 0,21% dari periode yang sama tahun lalu.

Padahal pada Agustus 2018 penerimaan pajak mampu tumbuh dobel digit. Tahun lalu pemerintah mampu mengumpulkan pajak sebesar Rp799,46 triliun, tumbuh 16,52% dari akhir Agustus 2017.

Berikut fakta-fakta yang dirangkum Okezone mengenai lambatnya pertumbuhan penerimaan pajak.

1. Seluruh Jenis Pajak Utama Alami Tekanan

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, seluruh jenis pajak utama mengalami tekanan hingga Agustus 2019. Pajak Penghasilan atau PPh 21 tercatat sebesar Rp102,13 triliun, hanya tumbuh 10,6%, jauh di bawah pertumbuhan akhir Agustus 2018 yang sebesar 16,46%.

Sri Mulyani Buka-bukaan soal Ekonomi RI di Manager Forum MNC Group

Begitu juga untuk PPh 22 Impor yang sebesar Rp36,60 triliun, hanya mampu tumbuh 0,6% dari tahun sebelumnya yang mampu tumbuh 25,5%. PPh Orang Pribadi tercatat sebesar Rp8,91 triliun atau tumbuh 15,4%, padahal tahun lalu mampu tumbuh 21,1%.

Selain itu, PPh Badan hanya terkumpul Rp155,62 triliun atau tumbuh 0,6%, sedangkan di akhir Agustus 2018 mampu tumbuh 23,3%. Serta PPh final sebesar Rp76,05 triliun atau hanya mampu tumbuh 6,1% dari yang sebelumnya mampu tumbuh 11%.

Baca Juga: 'Sophia' Punya Kewarganegaraan, Sri Mulyani: Pajak untuk Robot Hal yang Nyata

2. Dipicu Perlambatan EKonomi Global

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, lambatnya pertumbuhan penerimaan pajak didorong semakin nyatanya perlambatan ekonomi global. Di mana negara-negara maju mulai mengalami perlambatan ekonomi yang berdampak pada ekonomi nasional.

Perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin rendah membayarkan pajak karena memang bisnisnya terdampak iklim bisnis global karena eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, rendahnya harga komoditas, hingga persoalan geopolitik dan keamanan di banyak wilayah.

Baca Juga: Turis Asing Belanja Rp5 Juta Bisa Klaim Pengembalian PPN

3. Kontraksi Hingga ke PPN

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dalam Negeri juga mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 6,5% atau hanya mampu terkumpul Rp167,63 triliun. Di mana pada tahun sebelumnya mampu tumbuh positif 9,2%.

Selain itu PPN Impor terkumpul sebesar Rp111,2 triliun atau tumbuh negatif 6%dari tahun sebelumnya yang mampu tumbuh positif 27,4%.

"Per sektornya terlihat industri pengolahan dibanding tahu lalu pertumbuhan pajaknya negatif, begitu juga perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Kegiatan ekonomi mengalami dampak pelemahan ekonomi global," jelas Sri Mulyani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini