nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soal Keuangan Syariah, Sri Mulyani: Indonesia Akan Belajar dari Malaysia

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 14 November 2019 20:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 14 20 2130000 soal-keuangan-syariah-sri-mulyani-indonesia-akan-belajar-dari-malaysia-k9BDK1P3Zd.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com/Yohana)

 JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, keuangan syariah Indonesia masih sangat rendah dan tertinggal dari Malaysia. Oleh sebab itu, Indonesia bakal belajar dari Malaysia untuk bisa mendorong keuangan syariah bisa berkembang pesat.

"Indonesia akan belajar dari Malaysia, bagaimana mereka bisa berhasil," ujarnya dalam acara The 14th IFSB Board Summit di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Baca Juga: Taktik BI Tingkatkan Ekonomi Syariah di Tengah Ketidakpastian Global

Dia mengakui, keuangan syariah Indonesia masih terbatas dan memang berkembang terlambat. Di tandai dengan mulai berkembang di tahun 1980-an, hingga kemudian lahir Undang-Undang tentang Perbankan Syariah di tahun 1998.

Sementara, instrumen sukuk global baru berkembang pada 10-15 tahun lalu, sedangkan asuransi syariah bahkan baru berkembang beberapa bulan belakangan ini.

sri mulyani

Berbeda dengan Malaysia, di mana keuangan syariah sudah mulai berkembang sejak tahun 1963-an. Ditandai dengan berdirinya Tabung Haji Malaysia, sebagai dasar berkembangnya konsep Keuangan Syariah dan Perbankan di Negeri Jiran tersebut.

"Tetapi, meski terlambat dan sudah memulai proses ini, tetap instrumen keuangan syariah di Malaysia bisa dipelajari," kata dia.

Baca Juga: BI Minta Pesantren Go Digital Perluas Pangsa Pasar Industri Syariah

Menurutnya, ke depan pemerintah juga akan terus memperkenalkan keuangan syariah kepada masyarakat luas. Di antaranya dengan penerbitan sukuk global maupun ritel di dukung dengan sistem investasi yang mudah.

Sri Mulyani bilang, sukuk kini sudah sangat diminati masyarakat Indonesia, terlihat dari tren penerbitan suku ritel oleh pemerintah yang kini pembelinya juga berasal dari milenial. "Kami menciptakan sukuk ritel dan peminatnya kaum milenial. Padahal pada zaman kami dulu, saat seusia mereka hanya masukan dana ke rekening bank, dan milineal sekarang juga sudah paham soal pajak dan instrumen investasi," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini