BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 5%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 21 November 2019 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 21 20 2132709 bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-5-lhyI08BHqG.jpg Rilis 7 day repo rate bulan November (Foto: Okezone.com/Yohana Artha Uly)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 November 2019 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate. Dengan demikian, suku bunga acuan BI tetap berada di level 5%.

Maka suku bunga Deposit Facility (DF) tetap bertahan di level 4,25% dan suku bunga Lending Facility (LF) pada level 5,75%.

 Baca juga: BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga Acuan di 5%

Ini menjadi bulan pertama Bank Sentral menahan suku bunga acuannya, setelah sepanjang Juli, Agustus, September, Oktober 2019 memutuskan untuk menurunkan suku bunga masing-masing sebesar 25 bps.

 BI Rate

"Dengan mempertimbangkan ekonomi global maupun domestik, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 20-21 November 2019 memutuskan untuk menahan BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap di level 5%," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

 Baca juga: Menunggu Kebijakan Suku Bunga Acuan BI, Bakal Turun Lagi?

Perry mengatakan, BI terus mencermati kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal terhadap perekonomian Indonesia dalam mempertimbangkan kebijakan suku bunga acuan. Kebijakan menahan suku bunga, menurutnya, sejalan dengan rendahnya perkiraan inflasi sesuai sasaran dan tetap menariknya imbal hasil investasi keuangan domestik.

"Serta sebagai langkah pre emptive lanjutan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik, di tengah menurunnya ekonomi global," kata dia.

 Baca juga: BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5%

Sebelumnya, langkah Bank Sentral menurunkan suku bunga acuan ini sudah diperkirakan pasar. Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto menjelaskan, BI mempertimbangkan tingkat inflasi yang terjaga rendah, posisi cadangan devisa yang kini mencapai USD126,7 miliar, serta surplus neraca dagang pada Oktober 2019 yang sebesar USD161 juta.

"Maka opsi terbaik pada RDG BI November adalah BI tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 5%," ujarnya.

Pertimbangan lainnya, lanjut Ryan, menahan suku bunga dilakukan BI untuk menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar AS, di tengah faktor eksternal yakni perang dagang, brexit, dan risiko geopolitik yang masih belum kondusif terhadap perekonomian Indonesia.

Selain itu, BI juga sudah bertindak ahead the curve dengan menurunkan suku bunga acuan pada RDG BI Oktober lalu sebesar 25 bps menjadi 5%, sebelum The Fed menurunkan Fed Fund Rate (FRR) sebesar 25 bps menjadi 1,5%. Langkah tersebut dinilai tepat sehingga sudah saatnya BI 'menahan diri' tidak kembali menurunkan suku bunga acuan.

"Karena efek penurunan suku bunga acuan yang sebelumnya dilakukan pada Oktober juga masih berlangsung hingga saat ini," tambah Ryan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini