nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Belajar Ketahanan Bencana dari Suku Baduy hingga Bali

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Sabtu 23 November 2019 14:38 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 23 320 2133558 belajar-ketahanan-bencana-dari-suku-baduy-hingga-bali-pd5JZDCSKt.jpg Ketahanan Bencana (Foto: Instagram Kementerian PUPR)

JAKARTA - Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Namun, negara ini juga rawan bencana alam. Hal ini disebabkan letak negara ini yang berada di jalur cincin api pasifik. Ini membuat Tanah Air terdapat banyak gunung api yang menyebabkan rawan gempa dan erupsi vulkanik.

Selain itu, Indonesia juga negara yang 80% wilayah maritim. Maka dari itu, Indonesia sering terjadi tsunami. Oleh karena itu, warga Indonesia harus siap dalam menghadapi bencana. Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), ternyata sejak dahulu kala, nenek moyang kita sudah melakukan tindakan dalam menghadapi bencana.

Baca Juga: Pakar Kesehatan: Kualitas Udara 'Sangat Berbahaya' Akibat Asap Karhutla

"Sejak lama ternyata nenek moyang kita sudah melakukan berbagai tindakan mengenai ketahanan bencana lho, #SahabatPUPR!" tulis Kementerian PUPR yang dilansir dari akun instagramnya pada Sabtu (23/11/2019).

Kementerian PUPR mengatakan, setiap wilayah di Indonesia punya cara unik dengan kearifan lokal dalam menerapkan ketahanan terhadap bencana. Berikut ini mereka rangkum melalui foto unggahannya.

34 Korban Longsor Tambang Emas di Bolaan Mongondow Berhasil Dievakuasi 

Orang suku Baduy yang berdiam di Banten ini punya cara unik dalam menerapkan ketahanan terhadap bencana. Mereka menggunakan bahan bangunan lentur dalam membangun rumahnya. Bahannya seperti bambu, ijuk, dan kiray. Konon, rumah yang mereka dirikan tidak menyentuh tanah agar tidak gampang roboh.

Berbeda dengan di atas, masyarakat Gunung Semeru menanam pohon bambu. Pohon bambu ini berfungsi sebagai sarana peringatan erupsi.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Rehabilitasi Rumah Korban Tsunami Banten Diberikan Tunai

Di lain hal, masyarakat Gunung Merapi mengetahui akan terjadi bencana dengan melihat tanda alam. Misalnya, hewan yang turun dari gunung, cacing yang tiba-tiba keluar dari dalam tanah, dan burung berkicau di malam hari.

Sedangkan itu, warga Bali memukul kentongan jika terjadi bencana. Kentongan adalah alat pemukul yang terbuat dari batang bambu atau batang kayu jati yang dipahat.

Kentongan ini berfungsi sebagai sarana komunikasi antar warga jika terjadi bencana. Jika kentong dipukul, maka warga lain akan mengetahui bahwa telah terjadi bencana, sehingga mereka dapat menyelamatkan diri.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini