Padahal, lanjut Yon, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) impor memberikan kontribusi besar yakni 18% dari penerimaan negara. Pemerintah bahkan menargetkan PPN impor bisa tumbuh 23% pada tahun ini, sayangnya hingga per Oktober malah terkontraksi 7%.
"Aktivitas impor ini kemudian tertransmisi ke ekonomi dalam negeri, itu sudah terlihat dari penjualan ritel yang turun," ujarnya.
Faktor ketiga adalah harga komoditas yang fluktuatif. Yon menjelaskan, komoditas utama Indonesia yakni produk kelapa sawit memang mulai mengalami perbaikan harga, namun masih belum signifikan. Oleh sebab itu, kenaiakn harga komoditas tersebut belum bisa mengerek penerimaan negara.
"Perbaikan harga sawit ini baru bisa ditransmisikan ke penerimaan negara di Desember nanti atau tahun depan. Jadi tidak langsung, karena ini berkaitan dengan kontrak pembelian yang sifatnya beberapa bulan," kata dia.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.