nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Utang Perusahaan China Ancam Ekonomi Global, Kok Bisa?

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Rabu 18 Desember 2019 14:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 18 20 2143408 utang-perusahaan-china-ancam-ekonomi-global-kok-bisa-BrwxGVbUGg.jpg Ekonomi China Melambat. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA – Lembaga pemeringkat Moody menilai utang dari perusahaan China menjadi ancaman terbesar bagi ekonomi global. Risiko tersebut digambarkan seperti garis patahan yang sangat terlihat.

Kepala Ekonom Moody Mark Zandi melihat perusahaan-perusahaan China yang dililit utang sebagai risiko yang lebih besar bagi perekonomian global.

"Utang perusahaan China menjadi ancaman terbesar bagi perekonomian. Utang tersebut tumbuh semakin tinggi di China,” ujarnya dilansir dari CNBC, Rabu (18/12/2019).

Baca Juga: Bukan Emas atau Saham, Sneakers Jadi Investasi Nomor 1 di China

Zandi menjelaskan, banyak perusahaan menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang berasal dari war trade dan faktor-faktor lainnya.

“Di Amerika Serikat, gambarannya serupa. Kami telah melihat peningkatan yang sangat signifikan dalam pinjaman dengan leverage, seperti pinjaman kepada perusahaan-perusahaan yang berutang, dan mereka rentan bangkrut jika ekonomi melambat , ” kata dia.

Perang Dagang

Leverage merupakan pinjaman dari broker yang diberikan kepada trader, sehingga dana yang dimiliki trader memiliki daya beli yang lebih besar. Ada tiga jenis leverage, yaitu operating leverage, financial leverage dan combination leverage.

Utang telah menjadi masalah terbesar dalam perekonomian kedua di dunia. China berusaha untuk mengurangi ketergantungannya akan pinjaman dengan memperketat peraturan untuk mempercepat penghapusan atau pengurangan utang.

Baca Juga: Gaya Hidup Tinggi Bikin China Impor Besar-besaran

Akan tetapi, perang dagang menyebabkan China harus berutang. China melupakan upayanya untuk mengurangi tingkat utangnya yang besar saat dia mencari cara untuk meningkatkan perekonomiannya yang melambat dan terpukul oleh tarif AS terhadap ekspor China.

Pada tahun ini, China berusaha menghentikan upaya pinjaman leverage dan menempatkan lebih banyak stimulus. Stimulus merupakan pemakaian kebijakan moneter atau fiskal yang umumnya disebut kebijakan stabilisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Fitch Ratings mengatakan, rekor tertinggi sebesar 4,9% dari emiten swasta China gagal membayar pembayaran obligasi darat - atau obligasi berdenominasi yuan dalam 11 bulan pertama pada tahun 2019, melonjak dari 0,6% pada tahun 2014.

Dalam laporan Oktober ini, lembaga pemeringkat meletakkannya ke pengetatan kredit sebagai hasil dari upaya pemerintah menurunkan pinjaman leverage.

“Sekitar 80% dari perusahaan yang gagal bayar oleh penghitungan emiten dan jumlah pokok berasal dari sektor swasta. Ini lebih rentan daripada perusahaan milik negara terhadap volatilitas pasar pendanaan eksternal - dan karenanya menghadapi likuiditas yang lebih besar atau risiko pembiayaan kembali dengan kredit yang ketat, ”tulis laporan tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini