JAKARTA - Perusahaan produk konsumsi terbesar, Unilever memperkirakan penjualannya akan alami perlambatan alias bakal tidak memenuhi target.
Perusahaan besar ini mengatakan bahwa pelemahan ini akan terus berlanjut hingga tahun depan. Unilever yang telah menjual produknya di 190 negara ini menyalahkan perlambatan ekonomi di Asia Selatan yang merupakan salah pasar terbesarnya.
Selain itu, kondisi bisnisnya yang mengalami kesulitan di Afrika Barat dan Amerika Utara. Di London sendiri saham Unilever juga mengalami kehilangan lebih dari 6%.
Baca Juga: RUPSLB Unilever Indonesia Setujui Stock Split dan Pergantian Direksi
"Perlambatan ini terutama terjadi di pedesaan India, yang untuk pertama kalinya tumbuh lebih lambat dari India perkotaan," kata CEO Unilever Alan Jope dilansir dari CNN, Rabu (18/12/2019).
Pasar Asia Selatan yang mencakup Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal ini laju pertumbuhan ekonominya telah berkurang setengahnya. Di India sendiri hanya mencapai 9% sejak tiga tahun lalu.

Perlambatan di bidang manufaktur dan pertanian telah mengakibatkan PHK dan juga permintaan konsumen yang berkurang, sehingga membuat perusahaan memotong harga tinggi. Di bagian Eropa sendiri manufaktur melambat tajam di tahun ini.
Baca Juga: Vikram Kumaraswamy Mundur, Posisi Direktur Unilever Akan Kosong hingga Akhir Tahun
Ekonomi di China juga tumbuh dengan laju paling lambat selama 3 dekade ini. Kelonggaran ketegangan perdagangan antara China dan Amerika diharapkan akan membantu mengurangi tekanan ini.
Kesengsaraan Unilever kini menjadi sorotan, diperkirakan pada paruh pertama di tahun 2020 pertumbuhan penjualan akan berada di bawah 3%. "Pertumbuhan untuk setahun penuh diperkirakan berada di 'bagian bawah' dari kisaran 3% hingga 5%," ungkap Jope.