nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Sepinya Penumpang Pesawat, Harga Tiket Kemahalan?

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Senin 06 Januari 2020 08:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 05 320 2149465 fakta-sepinya-penumpang-pesawat-harga-tiket-kemahalan-kLrBJcvjqr.jpeg Pesawat Terbang (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Penumpang pesawat diprediksikan menurun pada tahun ini. Kabarnya, hal ini disebabkan karena tarif tiket pesawat yang masih tinggi. Walaupun penumpang pesawat mengalami penurunan, maskapai malah memperoleh keuntungan.

Berikut ini fakta sepinya penumpang pesawat yang dirangkum oleh Okezone pada Senin (6/1/2020):

1. Masih Tingginya Harga Pesawat Menjadi Penyebab Penumpang Pesawat Turun

Penumpang di sejumlah bandara di Indonesia diprediksi mengalami penurunan pada tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah masih tingginya harga tiket pesawat.

Pengamat penerbangan dan Anggota Ombudsman Republik Indonesia Alvin Lie mengatakan, memang tiket pesawat menjadi salah satu penyebab penumpang turun. Hanya saja, pengelola bandara juga harus intropeksi.

 Baca Juga: Jumlah Penumpang Pesawat 2019 Diprediksi Turun, Pengelola Bandara Diminta Intropeksi

2. Tiket Pesawat Naik Karena Kenaikan Pada Biaya-biaya di Bandara

Karena menurutnya yang menjadi salah satu penyebab tiket pesawat naik adalah adanya kenaikan pada biaya-biaya di bandara. Sebagai salah satu contohnya adalah biaya pelayanan, hingga biaya Passenger Service Charge (PSC) atau airport tax.

"Kemudian biaya-biaya di bandara juga naik. Biaya tempat, biaya pelayanan, bahkan Passenger Service Charge bandara itu naik dan itu sekarang dimasukan ke dalam harga tiket. Seolah-olah harga tiket jadi mahal padahal kan itu ada di dalam," ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (30/12/2019).

pesawat

3. Tol Trans Jawa Juga Menjadi Penyebab Sepinya Penumpang Pesawat

Turunnya jumlah penumpang pesawat terbang di beberapa bandara ternyata bukan hanya disebabkan oleh mahalnya tiket pesawat. Karena masih ada beberapa penyebab lainnya seperti misalnya tersambungnya Jalan Tol Trans Jawa.

Pengamat penerbangan dan Anggota Ombudsman Republik Indonesia Alvin Lie mengatakan, tersambungnnya Jalan Tol Trans Jawa ini membuat masyarakat memiliki pilihan transportasi untuk berpergian. Apalagi jarak dan waktu tempuhnya juga jauh lebih singkat dibandingkan belum ada jalan tol.

"Betul. Alternatifnya kan makin banyak," ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (30/12/2019).

Baca Juga: Penumpang di 16 Bandara Milik AP II Turun Drastis, Ini Faktanya!

4. Penyebab Lainnya adalah Sudah Membaiknya Pelayanan Transportasi Darat

Senada dengan Alvin Lie, Pengamat Penerbangan lainnya Gatot Raharjo mengatakan jika turunnya jumlah penumpang di beberapa bandara disebabkan sudah tersambungnnya Jalan Tol Trans Jawa. Selain itu, penyebab lainnya adalah karena sudah membaikanya pelayanan transportasi darat lainnya.

"Mungkin karena sudah ada moda transportasi lain seperti jalan tol, kereta api. Tapi itu hanya untuk Jawa aja dan sebagian Sumatera dan tidak terlalu banyak. Hanya pas peak season Lebaran dan Nataru aja. Kalau untuk sepanjang tahun, kayaknya pengaruhnya kecil," jelasnya.

5. Maskapai Tidak Menjual Tiket Melebihi Tarif Batas Atas (TBA)

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan Hengki Angkasawan mengatakan, urusan tiket pesawat ini sebenarnya permasalahan bisnis dari internal maskapai.Oleh karenannya,yang terpenting, pihak maskapai tidak menjual tiket melebih diatas Tarif Batas Atas (TBA) yang ditetapkan pemerintah.

"Kemenhub tidak bisa melakukan penekanan asalkan maskapai tidak menaruh harga melebih TBA seperti yang diatur di Keputusan Menteri Perhubungan nomor 106 tahun 2019," jelasnya.

Baca juga: Penumpang di 16 Bandara Milik Angkasa Pura II Turun 18,5% Sepanjang 2019

6. Walaupun Jumlah Penumpang Menurun, Sebagian Besar Maskapai Malah Meraup Keuntungan

Jumlah penumpang yang turun ternyata tidak berpengaruh terhadap bisnis maskapai penerbangan. Sebab,hingga saat ini sebagian besar maskapai justru masih bisa meraup untung.

Salah satu contohnya adalah keuangan Garuda Indonesia yang berhasil mengantongi pendapatan sebesar USD3,54 miliar dengan laba bersih USD122,42 juta di kuartal III-2019. Pada periode yang sama tahun lalu, GIAA justru mengalami kerugian sebesar USD114,08 juta

7. Maskapai Mendapatkan Keuntungan Karena Kenaikan Harga Tiket

Pengamat Penerbangan lainnya Gatot Raharjo mengatakan, penyebab mengapa maskapai seperti Garuda Indonesia masih untung adalah karena tiket pesawat yang masih mahal. Meskipun masih berada di bawah Tarif Batas (TBA) namun kenaikan 30% sudah cukup untuk menutupi pengurangan pendapat dari penurunan jumlah penumpang.

"Kenapa tiket enggak turun? Ya karena maskapai tidak mau menurunkan. Dengan kenaikan harga tiket yang sekitar 30%, masih bisa menutupi pengurangan pendapatan dari jumlah penumpang yang turun sekitar 20%," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (1/1/2020).

pesawat

8. Mengurangi Jumlah Penerbangan Juga Merupakan Salah Satu Maskapai Untung

Ditambah lagi lanjut Gatot, maskapai juga mulai mengurangi jumlah frekuensi penerbangannya. Biasanya rute penerbangan yang ditutup merupakan rute yang sepi penumpang.

Dengan ditutupnya beberapa rute penerbangan, maka biaya operasional maskapai juga mulai berkurang. Berkurangnya biaya operasional berimbas pada keuangan maskapai yang membaik.

"Dan lagi, dengan pengurangan frekuensi penerbangan karena penumpang berkurang, maka biaya produksi maskapai juga bisa ditekan. Jadi jangan heran walau jumlah penumpang turun, maskapai justru dapat untung. Maskapai butuh untung untuk menutupi finansial dan biaya operasi yg bengkak," jelasnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini