nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemutusan Jaringan Internet, Ekonomi Global Catat Kerugian Rp110,4 Triliun

Irene, Jurnalis · Jum'at 10 Januari 2020 13:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 10 320 2151422 pemutusan-jaringan-internet-ekonomi-global-catat-kerugian-rp110-4-triliun-5S4DgaFdFE.jpg Ilustrasi Jaringan Internet. (Foto: Okezone.com/Ist)

JAKARTA - Internet bagi kehidupan sekarang sudah menjadi kebutuhan primer. Sedikit saja mengalami gangguan, dampaknya sangat besar terutama untuk perekonomian.

Tercatat sepanjang 2019, terjadi pemadaman internet lebih dari 18.000 jam di seluruh dunia. Kondisi tersebut membuat perekonomian dunia merugi hingga dari USD8 miliar atau setara Rp110,4 triliun (kurs Rp13.804/USD) pada 2019. Pemadaman tersebut biasanya menjadi kebijakan pemerintah yang sengaja dilakukan karena sesuatu hal.

Baca Juga: Transaksi Ekonomi Digital RI Diprediksi Tembus Rp551 Triliun Tahun Ini

Negara yang dicap sebagai pelanggar terburuk soal internet adalah India, Chad dan Myanmar. Sementara Irak adalah negara paling terdampak ekonominya dengan kehilangan sekitar USD2,3 miliar atau setara Rp31,7 triliun akibat matinya internet selama 263 jam dan penutupan media sosialnya.

Internet

Data ini merujuk laporan yang diterbitkan oleh perusahaan riset internet Top10VPN bekerja sama dengan pengawas kebebasan internet Netblock dan kelompok advokasi The Internet Society. Laporan ini meneliti pemadaman internet di setidaknya terjadi di 122 negara.

"Dalam hal ekonomi, gangguan (internet) tidak hanya mempengaruhi ekonomi formal tetapi juga informal, terutama di negara-negara yang kurang berkembang. Juga dapat terjadi kerusakan yang berkelanjutan dengan hilangnya kepercayaan investor dan pembangunan yang goyah, yang membuat semua perkiraan kami konservatif," tulis Peneliti Samuel Woodhams Simon Migliano dalam laporannya untuk Top10VPN, dikutip dari CNN, Jumat (10/1/2020).

Baca Juga: Cerita Perubahan Teknologi Singgung Nokia, Mantan Menaker: Inovasi atau Mati

Dahulu, pemadaman internet terjadi karena gangguan yang terjadi pada kabel komunikasi bawah laut yang tidak sengaja. Namun sekarang, pemadaman semakin sering dilakukan secara sengaja oleh pemerintah, atau bisa dikatakan sebagai hal yang sangat umum untuk dilakukan.

Dalam lima tahun terakhir tercatat pemadaman internet tumbuh signifikan, terutama ketika pemerintah ingin mengendalikan kerusuhan dan protes di negaranya.

Menurut Freedom House, sebuah organisasi non-pemerintah berbasis di Washington, tahun lalu hampir setengah dari populasi di dunia tinggal di negara yang seringkali memutus jaringan internet atau seluler karena alasan politik. Contohnya di Indonesia.

Laporan terseebut mencatat Indonesia pernah memutus akses media sosial saat kerusuhan 22 Mei 2019 lalu yang terjadi di Jakarta. Tak hanya itu, di Papua Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pernah melakukan pembatasan akses internet berhubung adanya aksi rusuh massa yang terjadi di Manokwari, Jayapura dan beberapa tempat lain.

Di India, pemutusan jaringan internet dilakukan setidaknya 100 kali pada tahun 2019. Top10VPN memperkirakan pemutusan ini menghabiskan biaya ekonomi India lebih dari USD1,3 miliar atau Rp17,9 triliun.

Meski Xinjiang, salah satu provinsi di China menjadi yang pertama yang memulai tren pemadaman internet ini, justru jarang melakukannya. Sensor China cukup canggih yang menyebabkan mereka tidak perlu memutus jaringan internet untuk mengontrol konten yang tersebar di masyarakat. Keberhasilan teknologi penyensoran internet oleh China ini mulai diilhami negara-negara lain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini