nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

9 Fakta di Balik Peresmian Terowongan Nanjung

Fabbiola Irawan, Jurnalis · Kamis 30 Januari 2020 09:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 30 320 2160490 9-fakta-di-balik-peresmian-terowongan-nanjung-m7Bd0vYCET.png Jokowi Resmikan Terowongan Nanjung (Foto: CDB/Okezone)

JAKARTA - Menyikapi bencana banjir yang terjadi di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, Pemerintah pusat membuatkan Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung.

Terowongan yang bertujuan untuk membenahi banjir di Sungai Citarum ini sudah selesai pembangunannya dan baru-baru ini telah diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Oleh karena itu, Okezone akan merangkum fakta-fakta seputar terowongan penangkal banjir kebanggaan Bandung, Jakarta, Kamis (30/1/2020):

1. Rampung Dua Tahun

Pembangunan Terowongan Nanjung ini dimulai pada November 2017 kemudian selesai pada Desember 2019. Artinya, pembangunan terowongan penangkal banjir di Bandung ini hanya berjalan selama dua tahun saja.

Walau dibangun dalam waktu yang relatif singkat, Terowongan Nanjung memiliki kapasitas yang tidak kalah dari penangkal banjir lainnya. Terowongan Nanjung terdiri dari 2 tunnel dengan panjang masing-masing 230 meter dan diameter 8 meter.

 

2. Tampung Kapasitas Sungai Citarum hingga 669 Meter Kubik/Detik

Terowongan Nanjung ini nantinya akan menampung kapasitas Sungai Citarum menjadi 669 meter kubik per detik, yang semulanya hanya 570 meter kubik per detik.

Tidak hanya itu, salah satu terowongan penangkal banjir di Jawa Barat ini akan mengurangi total luas genangan di Kabupaten Bandung dari semula 3.461 hektare menjadi 2.761 hektare.

 

3. Gunakan APBN Rp316,01 Miliar

 

Dalam pembangunannya, Terowongan Nanjung menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp316,01 Miliar. Tentu bukan angka yang sedikit.

Pembangunan Terowongan Nanjung ini dilakukan oleh PT Wijaya Karya – PT. Adhi Karya (KSO) selaku kontraktor.

4. Diresmikan Langsung Oleh Presiden

 

Usai pembangunannya selesai, Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung meresmikan Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung.

"Hari ini saya ke Bandung, Jawa Barat. Saya hendak meresmikan Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung. Pembangunan terowongan ini adalah salah satu upaya besar pemerintah untuk membenahi Sungai Citarum," tulisnya melalui akun Twitter resminya @jokowi, Rabu (29/1/2020).

 

5. Atasi Banjir Besar di Wilayah Cekungan Bandung

Terowongan Nanjung tidak menjadi penangkal banjir yang utama di Bandung. Terowongan yang memakan waktu 2 tahun pembangunan ini akan dioperasikan jika terjadi banjir besar di wilayah Cekungan Bandung yang meliputi Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang.

Jika dalam kondisi normal atau sedang tidak terjadi banjir besar, Terowongan Nanjung tidak akan beroperasi. Artinya air akan tetap dialirkan melalui aliran biasa ke Curug Jompong.

"Ini upaya kita dalam rangka mengatasi banjir genangan yang ada di Kabupaten Bandung dan di bawahnya. Jadi program besarnya kita harus selesaikan yang di hulu, itupun belum selesai," kata Presiden Jokowi.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam mengatasi banjir di Cekungan Bandung.

“Cekungan Bandung tidak ada berita negatif karena air yang biasa kumpul di titik-titik tersebut bisa dialirkan dengan cepat melalui Terowongan Nanjung. Kami berkomitmen untuk melakukan percepatan pengendalian banjir sehingga potensi banjir bisa lebih dikendalikan,” jelas Ridwan Kamil dikutip dari situ PUPR, Rabu (15/1/2020).

6. Bandung Punya Terowongan Penangkal Banjir Lainnya

Selain Terowongan Nanjung, ada juga infrastruktur pengendali banjir di Bandung Selatan lainnya yakni Embung Gedebage, Kolam Retensi Cieunteung dan Floodway Cisangkuy.

“Floodway Cisangkuy ini sudetan untuk masuk ke Sungai Citarum di hilir Dayeuhkolot yang langganan banjir. Debit banjir akan kita alirkan ke Floodway Cisangkuy minimal 220 m3/detik sehingga yang lewat Sungai Cisangkuy yang asli hanya 5 m3/detik. Ini akan mengurangi beban Sungai Citarum di Dayeuhkolot,” papar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Untuh Floodway Cisangkuy yang sepanjang 1,7 kilometer ini akan rampung pada Oktober 2020 mendatang dengan PT PP sebagai kontraktor.

“Target saya dengan Gubernur Jawa Barat tahun 2020 ini pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Citarum Hulu selesai, sehingga mulai tahun depan bisa fokus ke hilir seperti Karawang, Muara Gembong dan Cibeet,” lanjut Menteri yang gemar bermain drum itu.

7. Terowongan Nanjung Efektif Atasi Banjir

Dengan keberadaaan Terowongan Nanjung, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan infrastruktur ini telah memberikan efek nyata dalam mengurangi genangan air saat puncak hujan yang mengguyur sebagian wilayah Provinsi Jawa Barat pada 17 Desember 2019 lalu.

“Tadi kita lihat ternyata Terowongan Nanjung saat pintu air dibuka Sungai Citarum bisa kering. Pada 17 Desember 2019 terjadi puncak hujan di Bandung dan sekitarnya, waktu itu dites oleh BBWS Citarum ditunggu sampai air banjir naik di Dayeuhkolot dan masyarakat bersiap untuk mengungsi seperti biasa. Terowongan ini lalu dibuka pukul 23.15, lima jam kemudian sekitar pukul 5 pagi sudah surut. Jadi terowongan ini memang berfungsi sebagai salah satu pengendali banjir di Bandung Selatan,” ungkap Menteri Basuki, seperi dikutip dari situs PUPR, Rabu (15/1/2020).

Dia pun mengatakan, warga Dayeuhkolot kini tak perlu khawatir mengungsi lantaran banjir akibat hujan deras.

"Dengan curah hujan lebih tinggi, biasanya curah hujan 300 mm ini orang sudah naik perahu, 17 Desember kemarin (di Bandung Selatan) sudah 424 mm, orang masih pakai sepeda motor, masih kering," tandasnya.

8. 14.000 KK Bakal Bebas Banjir

Terowongan yang terdiri dari 2 tunnel sepanjang 230 meter dengan diameter 8 meter ini akan membebaskan 14.000 KK dari banjir.

 

9. Sejalan dengan Amanat Presiden

 

Pembangunan Terowongan Nanjung ini juga menjadi bagian dari penataan das Citarum secara terpadu oleh Kementerian PUPR.

“Sejalan dengan amanat Presiden melalui Perpres No 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum,” tulis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui akun Instagram resminya @kemenpupr, Kamis (2/1/2020).

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini