JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa pengembangan program keuangan berkelanjutan di Indonesia telah mencapai banyak kemajuan sesuai dengan yang ditargetkan. Saat ini Indonesia berada di posisi dua negara teratas yang telah menjangkau tahap matang pengembangan dan reformasi keuangan.
Dalam konferensi The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Boulogne, Prancis, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, The Sustainable Banking Network (SBN) Global Progress Report pada tahun lalu telah mengumumkan bahwa Indonesia pada posisi dua negara teratas dunia. “(Di mana) yang telah mencapai tahap matang dalam pengembangan dan reformasi keuangan berkelanjutan," kata Wimboh melansir website OJK, Jakarta, Kamis (30/1/2020).
Baca juga: Sederet Kritik untuk OJK, Telat Merespons Kasus Jiwasraya
Wimboh menyatakan hal ini dapat digapai karena semua Bank Umum (kecuali BPR) telah mematuhi peraturan keuangan berkelanjutan dengan mengajukan rencana aksi mereka dalam menerapkan prinsip-prinsip keuangan berkelanjutan. Ia juga menyebutkan pengembangan keuangan berkelanjutan di sektor perbankan berjalan dengan meningkatnya portofolio untuk membiayai proyek-proyek keberlanjutan seperti bangunan hijau, ekowisata, energi terbarukan, pertanian organik, dan proyek infrastruktur berkelanjutan.
"Ketentuan ini akan diikuti oleh BPR satu tahun dari sekarang. Oleh karena itu, kami diharapkan sektor perbankan hijau akan berjalan secara keseluruhan pada tahun 2021," kata Wimboh.
Baca juga: Usul OJK Dibubarkan, DPR Sebut Fungsinya Dikembalikan ke BI dan Bapepam LK
Pencapaian portofolio dalam kategori kegiatan bisnis yang berkelanjutan pada tahun 2019 mencapai sekitar Rp763 triliun pada tahun 2019 atau 9% dari total pembiayaan yang didistribusikan, dan salah satu bank telah menerbitkan Obligasi Keberlanjutan Global (Global Sustainability Bonds) dengan tenor 5 tahun, tingkat kupon 3,95% dengan nilai sekitar USD500 juta.
(Fakhri Rezy)