Imbas Virus Korona, DBS Pangkas Proyeksi Ekonomi Singapura ke 0,9%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Minggu 09 Februari 2020 19:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 09 20 2165779 imbas-virus-korona-dbs-pangkas-proyeksi-ekonomi-singapura-ke-0-9-DVAq7U0baR.jpg Dolar Singapura (Reuters)

JAKARTA - DBS Group Research memangkas perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura menjadi 0,9% di 2020, dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 1,4%. Hal ini imbas dari wabah virus korona yang mempengaruhi Singapura dari segi konsumen, bisnis, hingga pariwisata.

"Prospek ekonomi seharusnya membaik, tetapi virus telah membuat hal itu tidak bekerja sesuai harapan," ujar Ekonom Senior DBS Irvin Seah seperti dikutip dari The Straits Times, Minggu (9/2/2020).

 Baca juga: Wabah Virus Korona, Simak 7 Potret di Kawasan Ekonomi China

Kekhawatirannya adalah bahwa dampak dari virus korona jenis baru itu, bisa lebih besar daripada wabah SARS (sindrom pernafasan akut akut) yang terjadi pada tahun 2003. Kedua virus ini memang pertama kali ditemukan di China.

Irvin bilang, saat ini ekonomi Singapura telah sudah jauh lebih terintegrasi dengan China dibandingkan dengan masa saat wabah SARS terjadi. Mengantisipasi korona, Singapura sejak 31 Januari 2020 telah melakukan pelarangan penerbangan dari dan ke China untuk sementara waktu.

 Baca juga: Terserang Virus Korona, Ekonomi China Bisa 0% di Kuartal I-2020

DBS memperkirakan, untuk setiap tiga bulan kebijakan larangan perjalanan itu berlaku, maka akan terjadi penurunan sekitar 1 juta wisatawan asal China, atau sekitar kehilangan potensi penerimaan negara sebesar USD1 miliar.

Penghitungan itu didasarkan pada perkiraan 310.000 wisatawan asal China per bulannya yang datang ke Singapura, dan termasuk memperhitungkan beberapa pembatalan langsung oleh pelancong regional.

Menurut DBS, penurunan kedatangan wisatawan ke Singapua kemungkinan akan mengurangi sekitar 0,5 poin dari persentase pertumbuhan PDB Singapura di sepanjang 2019.

 Baca juga: Virus Korona Lumpuhkan China, Rantai Pasokan Global Terganggu

Irvin bilang bilang, diperlukan respons fiskal yang kuat dari pemerintah, dan pelonggaran moneter lebih lanjut dari Bank Sentral jika wabah terus meningkat di negara tersebut. Hingga saat ini sudah terdapat 33 orang di Singapura terinfeksi virus korona.

Pada hari Rabu 5 Februari 2020 lalu, Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengatakan, telah melonggarkan kebijakan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada pertemuan terakhir Oktober 2019 lalu, dan mata uangnya telah diperdagangkan di kisaran batas atas kebijakannya. Oleh sebab itu dolar Singapura masih memiliki ruang depresiasi guna mengakomodasi setiap gejolak ekonomi yang menerpa.

Di sisi lain, pemerintah juga akan mengumumkan paket bantuan dalam anggaran mendatang untuk memberikan dukungan bagi perusahaan dan industri yang terkena dampak wabah korona."Memang, tindakan kebijakan yang kuat dan pre-emptive diambil pada saat ini akan membantu mengurangi dampak negatif dari wabah," imbuh Irvin.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini