4. Waktu yang tidak tepat
Waktu krisis kesehatan terjadi yakni selama liburan Tahun Baru Imlek, telah menghantam perusahaan pada waktu yang paling menguntungkan mereka.
Liburan Tahun Baru diperpanjang selama beberapa hari oleh otoritas China secara nasional, dan telah ada perpanjangan yang diberlakukan oleh beberapa otoritas provinsi, menunda waktu kembali bekerja dan bisnis belum berjalan normal.
5. Perusahaan internasional menderita
Dampaknya virus korona pun telah menyebar jauh di luar pantai Cina. Hyundai, dari Korea Selatan, telah menangguhkan produksi mobilnya karena masalah dengan pasokan suku cadang dari pabriknya di Cina. Ini sebuah tanda peringatan dini kemungkinan gangguan besar di masa depan.
Perusahaan retail internasional telah menutup operasinya di Cina seperti penjual furnitur Ikea dan kedai kopi Starbucks. Pasar keuangan juga merasakan dampak krisis kesehatan.
Baca Juga: The Fed: Virus Korona Ancam Prospek Ekonomi Global
6. Harga minyak jatuh
Harga minyak mentah mencapai level terendah dalam lebih dari setahun, turun sekitar 15% dalam dua minggu terakhir. Hal ini mencerminkan permintaan menurun dari Cina, digarisbawahi oleh laporan bahwa kilang terkemuka negara itu, Sinopec, mengurangi produksi minyak olahan.
Kelompok negara pengekspor minyak sedang mempertimbangkan pengurangan produksi dalam upaya untuk membalikkan penurunan harga.
7. Dampak jangka panjang
Perusahaan konsultan Oxford Economics, yang memperkirakan ekonomi China akan tumbuh rata-rata sebesar 5,6% tahun ini. Turun dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 6%.
Perusahaan konsultan ini juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat 2% ketimbang perkiraan sebelumnya.
Baca Juga: Wabah Virus Korona, Simak 7 Potret di Kawasan Ekonomi China
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.