nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menko Airlangga Ungkap Pentingnya Sosialisasi Keamanan Pangan dalam Industri CPO

Irene, Jurnalis · Minggu 09 Februari 2020 17:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 09 320 2165743 menko-airlangga-ungkap-pentingnya-sosialisasi-keamanan-pangan-dalam-industri-cpo-EJFR0l01cE.jpg Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pentingnya sosialisasi terhadap industri minyak sawit. Hal ini dilakukan guna menjunjung tinggi keamanan pangan (food safety) mengingat Indonesia adalah salah satu negara produsen minyak sawit yang akan memperoleh keuntungan besar karena 80% produksinya digunakan di pabrik bahan pangan.

Mitigasi pembentukan 3-monochloropropan-1,2-diol (3-MCPD) pun dilakukan guna mengupayakan standar food safety tersebut. 3-MCPD adalah sejenis kontaminan pemrosesan makanan yang ditemukan dalam beberapa makanan olahan dan minyak nabati.

 Baca juga: Minyak Kelapa Sawit RI Didiskriminasi Uni Eropa, Ini Saran Menko Airlangga

“Sosialisasi kepada industri minyak sawit atas kebutuhan mitigasi terhadap 3-MCPD untuk food safety sangatlah penting dan harus menjadi prioritas,” tegas Airlangga dalam Forum 3-MCPD dan GE, seperti dilansir Okezone dari laman resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Minggu (9/2/2020).

Naiknya standar dari pasar global disebut menjadi sebab pentingnya sosialisasi ini untuk dilakukan. Standar tersebut antara lain kebijakan Uni Eropa (UE) tentang batas maksimum 3-MCPD sebesar 2,5 ppm untuk minyak sawit jika ingin digunakan sebagai bahan makanan. Namun, UE sendiri menerapkan batas 1,25 ppm untuk minyak nabati yang diproduksi di negara anggotanya. Kebijakan ini akan mulai diterapkan pada Januari 2021 mendatang.

 Baca juga: Ekspor Minyak Sawit Kalsel Capai Rp36 Miliar, Begini Hitung-hitungannya

Sementara itu, Council of Palm Oil Producing Countries atau Dewan Negara Produsen Sawit (CPOPC) telah menyatakan keberatan atas kebijakan dua batas maksimum 3-MCPD UE tersebut, khususnya pada penetapan 1,25 ppm untuk minyak nabati yang diproduksi di sana. Pasalnya, batasan maksimum 3-MCPD sebesar 2,5 ppm adalah batas keamanan (safety level) yang dapat diterima untuk konsumsi. Oleh karenanya, UE kemudian dinilai perlu untuk menerapkan satu batas maksimum yang berlaku untuk semua minyak nabati.

“Konsumen akan disesatkan untuk percaya bahwa minyak sawit itu lebih buruk daripada minyak nabati yang sebenarnya memiliki batas 3-MCPD lebih rendah,” ujar Airlangga.

 Baca juga: Pemerintah Pastikan Kelapa Sawit Masuk Dalam Negosiasi Dagang IUE-CEPA

Sebagai negara anggota CPOPC bersama dengan Malaysia dan Kolombia, Menko Airlangga dengan tegas menolak kebijakan UE tersebut.

Turut hadir dalam Forum 3-MCPD dan GE ini antara lain adalah Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud, Duta Besar Kolombia untuk Indonesia H.E. Juan Camilo Valencia Gonzalez. Tidak hanya itu, Duta Besar Guatemala untuk Indonesia H.E. Jacobo Cúyub Salguero, Eksekutif Direktur CPOPC Tan Sri Datuk Dr. Yusof Basiron, dan Wakil Perwakilan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia Dupito Simamora juga terlihat hadir dalam forum ini.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini