nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

LPG Jadi Biang Kerok Defisit Neraca Perdagangan, Bagaimana Solusinya?

Vania Halim, Jurnalis · Sabtu 15 Februari 2020 15:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 15 320 2168965 lpg-jadi-biang-kerok-defisit-neraca-perdagangan-bagaimana-solusinya-teL8WfYRmY.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kebutuhan LPG Indonesia saat ini tercatat sekitar 7 juta ton per tahun. Ternyata angka ini tidak semuanya dapat tercukupi dari pasokan domestik saja.

Kebutuhan LPG dalam negeri 70% dipenuhi oleh impor dan 30% sisanya dari pasokan domestik. Jumlah ini menjadi salah satu penyebab defisit di neraca perdagangan.

 Baca Juga: 6 Fakta Defisit Neraca Dagang Mengecil Jadi USD3,2 Miliar di 2019

Melansir dari Instagram Kementerian ESDM, pemerintah merancang beberapa solusi dan langkah untuk menekan impor LPG. Salah satu yang sudah mulai diimplementasikan ke masyarakat adalah pemasangan jaringan gasi kota (jargas). Jaringan gas ini menggunakan pasokan gas-gas domestik untuk disalurkan langsung ke rumah-rumah penduduk.

Hingga akhir 2019, telah terpasang kurang lebih 537 ribu sambungan rumah. Selain dapat mengurangi impor, penggunaan jargas juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga sekitar Rp90.000 per bulan per rumah dibanding dengan LPG 3kg.

Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Defisit USD3,2 Miliar Sepanjang 2019

Hemat subsidi LPG yang dialokasikan sebesar Rp50,6 triliun tahun 2020. Pemerintah juga terus menodorng gasifikasi batu bara guna mengurangi impor liquefied petroleum gas (LPG).

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengonversi batu bara menjadi dimethy ether (DME) sebagai bahan bakar pengganti LPG.

(kmj)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini