Ini Industri China yang 'Terjangkit' Virus Korona

Irene, Jurnalis · Jum'at 21 Februari 2020 13:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 21 320 2172004 ini-industri-china-yang-terjangkit-virus-korona-tk37cYvkEs.jpg China (Bloomberg)

JAKARTA – China memperpanjang aktivitas imbas wabah virus korona atau Covid-19 dan membuat perekonomian Negara tersebut terhenti. Hampir seluruh sektor perekonomian China berjuang untuk bangkit kembali di tengah kesulitan yang terjadi.

Sementara itu para analis beranggapan bahwa bangkit kembalinya sektor industri akan berjalan dengan lambat menyusul perintah karantina yang kemudian membatasi produksi di pabrik-pabrik China. Wabah ini diprediksi akan menyebabkan pukulan jangka pendek di sektor konsumsi yang merupakan bagian vital dari pertumbuhan negara itu. Virus ini juga berdampak langsung pada sektor-sektor lain.

 Baca juga: China Pangkas Suku Bunga untuk Redam 'Sakitnya' Virus Korona

"Kontrol yang diterapkan untuk membendung penyebaran virus telah menghentikan pergerakan orang, menghentikan aktivitas bisnis dan menutup kantor di seluruh negeri," ujar perusahaan pemeringkat S&P dalam sebuah laporan seperti dilansir dari CNBC, Jumat (21/2/2020).

Berikut ini sektor yang akan terdampak dari wabah virus korona yang belum usai menurut laporan dari S&P Global dan Morgan Stanley.

Restoran, Ritel, dan Rekreasi

Menurut pernyataan S&P Global, sektor restoran di China akan mengalami penurunan penjualan yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2020. Perusahaan memproyeksikan angka itu berkisar 45% hingga 55% dari pendapatan penjualan selama periode yang sama di tahun lalu.

 Baca juga: China Bakal Musnahkan Uang Kertas Terindikasi Virus Korona

“Wabah coronavirus bertepatan dengan Festival Musim Semi tahun ini. Setelah kota Wuhan secara efektif ditutup dan dikarantina pada 23 Januari, restoran-restoran di seluruh negeri menutup daun jendela mereka untuk Tahun Baru Cina,” tertulis dalam laporan.

Morgan Stanley menambahkan penutupan kasino yang berlangsung selama dua minggu di Makao akan membebani pihak operator. Hal ini akan mengakibatkan penurunan lebih dari 50% laba pada kuartal pertama. Angka ini belum lagi ditambah bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi untuk sektor ini.

Pariwisata

Bukan hanya berdampak pada sektor pariwisata di luar China, pendapatan pariwisata China untuk paruh pertama di tahun ini juga akan mengalami pukulan telak yang akan mempengaruhi kinerja secara keseluruhannya sepanjang tahun. Wabah ini bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek yang adalah puncak pendapatan pariwisata China.

 Baca juga: Fakta Virus Korona, Bikin Harga Babi Naik hingga Sektor Pariwisata Tertekan

"Daerah-daerah ini terbukti sangat rentan selama wabah ini dan menyoroti kelemahan dalam struktur pendapatan pariwisata domestik. Sebagian besar tujuan wisata, hotel, resor, dan taman hiburan ditutup sementara," tertulis dalam laporan.

Perumahan

Bila dibandingkan dengan epidemi SARS tahun 2002-2003, wabah virus korona akan memiliki dampak yang lebih parah pada sektor properti. Menurut S&P Global, pertumbuhan penjualan di kota-kota tingkat ketiga dan keempat berpotensi tak pulih tahun ini.

"Ini karena penghentian permintaan dari pekerja migran, yang secara tradisional kembali ke kampung halaman mereka selama Festival Musim Semi, dan biasanya menggunakan periode tersebut untuk membeli properti,"

Wabah ini juga akan berdampak panjang pada properti komersial seperti gedung perkantoran dan mal. S&P Global berpendapat pemulihan butuh waktu yang lama, apalagi perusahaan China mulai lebih mendorong kegiatan belanja ke online.

“Butuh waktu lama untuk memulihkan lalu lintas pejalan kaki di pusat perbelanjaan. Lebih penting lagi, virus telah mendorong perusahaan-perusahaan Cina untuk mencoba pergeseran besar-besaran ke arah operasi online, yang semakin meningkatkan jangkauan e-commerce kepada konsumen baru,” katanya.

Sedangkan menurut Morgan Stanley, lebih dari 50 kota di China menutup situs penjualan propertinya dan menghentikan acara pemasaran serta konstruksi di tempat.

Hiburan

Industri bioskop China telah mengalami pukulan telaknya diikuti dengan kerugian tajam di box office. Tujuh film yang dijadwalkan untuk rilis selama Tahun Baru Imlek ditarik kembali. Ini menyebabkan kerugian sebesar USD210 juta di industri perfilman. Sebagian besar teater juga ditutup selama dua minggu.

E-Commerce

Sementara orang-orang lebih memilih untuk berbelanja secara online saat aktivitas luar ruangannya dikurangi, perusahaan e-commerce juga bisa terkena dampaknya.

Morgan Stanley menunjukkan bahwa gangguan logistik mempengaruhi pengiriman dan akan berpengaruh negatif pada industri e-commerce di China. Alibaba pekan lalu memperingatkan bahwa ada gangguan terkait virus yang akan menekan pertumbuhan pendapatannya pada kuartal bulan Maret. CEO Daniel Zhang mengatakan bahwa keterlambatan karyawan dalam kembali bekerja mencegah pedagang dan perusahaan logistik untuk melanjutkan operasional.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini