Share

Dikeluarkan dari Negara Berkembang, Mendag: Daya Saing Produk RI Harus Ditingkatkan

Irene, Okezone · Selasa 25 Februari 2020 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 25 20 2173760 dikeluarkan-dari-negara-berkembang-mendag-daya-saing-produk-ri-harus-ditingkatkan-ChliuYdrxZ.jpg Mendag Agus Suparmanto (Foto: Okezone.com/Giri Hartomo)

JAKARTA - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memberi tanggapan terkait ditetapkannya Indonesia sebagai negara maju oleh Amerika Serikat. Dirinya mengatakan bahwa daya saing Indonesia perlu ditingkatkan menyusul dikategorikannya Indonesia sebagai negara maju.

Mendag Agus Suparmanto menyatakan bahwa Indonesia siap untuk meningkatkan daya saing, khususnya peningkatan ekspor ke Amerika Serikat. Hal ini dikatakan Agus agar Indonesia dapat memenangkan pasar ekspornya.

 Baca juga: AS Keluarkan Indonesia dari Negara Berkembang, Ini 3 Kriteria Penyebabnya

"Dikeluarkannya Indonesia dalam kategori negara berkembang tersebut, artinya daya saing produk Indonesia harus ditingkatkan agar kita terus dapat memenangkan pasar ekspor Indonesia," ujar Agus Suparmanto, seperti dikutip dari siaran pers Kementerian Perdagangan, Selasa (25/2/2020)

Selain itu, Agus menambahkan perubahan kriteria yang ditetapkan USTR tersebut hanya berlaku dalam aturan CVD. Mendag juga menegaskan penetapan Indonesia sebagai negara maju tidak akan berdampak pada fasilitas GSP yang diterima Indonesia selama ini.

 Baca juga: Dikeluarkan dari Negara Berkembang, Menkeu: Tak Ganggu Fasilitas GSP dari AS

"Sementara itu, perubahan kriteria negara berkembang yang ditetapkan USTR tersebut hanya berlaku dalam aturan pengenaan CVD dan tidak berdampak pada status Indonesia sebagai negara berkembang penerima fasilitas GSP," tegas Mendag Agus.

Hal serupa juga dikatakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sri menilai penghapusan Indonesia dari negara berkembang tak akan mengganggu fasilitas Generalized System of Preference (GSP).

 Baca juga: AS Hapus Indonesia dari Daftar Negara Berkembang, BKPM Bentuk Tim Analis

"Jadi sebetulnya enggak terlalu besar sekali pengaruhnya kepada perdagangan kita, dan CVD ini berbeda dengan GSP, jadi dan enggak ada hubungannya dengan berbagai hal yang lain," ungkap Sri Mulyani saat ditemui di kantor Kemeko Bidang Perekonomian.

Sebagai informasi, Amerika Serikat menerapkan tiga kriteria baru untuk menghapus suatu negara dari daftar negara berkembang. Kriteria tersebut antara lain berdasarkan Gross National Income menurut versi Bank Dunia, di mana lebih dari USD12.375 per tahun, pangsa total perdagangan dunia di atas 0,5%, dan negara berkembang yang merupakan anggota Uni Eropa, OECD, dan G-20.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini