JAKARTA - Vietnam merasakan dampak ekonomi dari virus korona atau Covid-19. Namun, pada 14 Februari, Pemerintah Vietnam mengumumkan tidak akan menurunkan target pertumbuhan ekonominya.
Banyak pabrik seperti Tan Hoang Gia Trading Co yang mengimpor kayu lapis dari China saat ini tidak dapat mendapatkan material itu. Pengunjung dari China meruapakan sepertiga wisatawan yang datang ke Vietnam.
Baca Juga: Promosi dan Insentif, Cara Jokowi Tingkatkan Kunjungan Turis ke RI
Melansir dari Business Insider, Selasa (25/2/2020), pada 14 Februari, pemerintah Vietnam mengumumkan tidak akan menurunkan target pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2020. Pada hari Senin, ada 16 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di Vietnam dengan kasus secara global ada lebih dari 76.000 total kasus dan lebih dari 2.200 kematian. .
Virus korona bisa menyebabkan tingkat pertumbuhan PDB Vietnam turun sekitar 1% untuk tahun ini, walaupun Pemerintah menolak untuk menurunkan targetnya. Departemen Penasihat Pemerintah Vietnam Le Dang Doanh menyatakan virus ini berpengaruh terhadap beberapa sektor yaitu eskpor ke dan impor ke China, pariwisata, maskapai penerbangan, dan kereta api.
"Pemerintah masih mempertahankan target pertumbuhan agar tidak berubah. Saya pikir tingkat pertumbuhan PDB ekonomi Vietnam harus dikurangi 1% dari 6,9% menjadi 6%-5,9%," katanya.
Baca Juga: Jokowi Siapkan 'Vaksin' Penangkal Virus Korona ke Ekonomi RI
Beberapa Sektor Mengalami Tekanan
Kepala Jones Lang LaSalle menerangkan perusahaan real estat telah melihat dampak jangka panjang yang cukup kecil dari sudut pandang bisnis. Virus korona memiliki dampak langsung yang jelas pada sektor-sektor tertentu.
Para pejalan kaki juga tidak ingin berada di ruang publik karena mereka dapat terinfeksi. "Lalu lintas pejalan kaki di pusat perbelanjaan telah menuru, karena orang tidak ingin berada di ruang publik, tempat mereka dapat terjangkit," kata Wyatt.