Share

Rupiah Melemah, Gubernur BI: Masih Lebih Rendah Negara Lain

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 28 Februari 2020 16:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 28 278 2175688 rupiah-melemah-gubernur-bi-masih-lebih-rendah-negara-lain-XxP11Q00Dy.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terus mengalami pelemahan sejak munculnya wabah virus Korona. Saat ini nilai tukar rupiah sudah mencapai Rp14.000 per USD setelah sebelumnya selalu stabil di kisaran Rp13.500 hingga Rp13.600 per USD.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, meskipun mengalami pelemahan, hanya saja masih relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lain di dunia. Bahkan mata uang seperti Korea Selatan hingga Jepang mengalami pelemahan lebih dalam.

"Pengaruh terhadap nilai tukar alami pelemahan secara year to date mencapai 1,08% sampai 27 Februari 2020 diperdagangkan sekitar Rp14.000 per USD. Bandingkan dengan negara lain, pelemahan rupiah relatif rendah dibandingkan dengan mata uang lain," ujarnya saat ditemui di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Baca Juga: Rupiah dan IHSG Anjlok, Gubernur BI: Pasar Keuangan Sedang Radang

Perry mencontohkan mata uang Korea Selatan yang mengalami pelemahan sekitar 5,07%. Kemudian mata uang negara tetangga yakni Thailand yang turun 6,42%.

Tak hanya itu, mata uang Ringgit Malaysia juga mengalami pelemahan hingga 2,91%. Sementara mata uang dolar Singapura mengalami pelemahan 3,76%, sementara Indonesia atau rupiah hanya melemah 1,08%.

Menurut Perry, jika melihat pelemahan mata uang ini, bisa disimpulkan jika dampak virus Korona ini tidak terlalu besar bagi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain. Utamanya jika dibandingkan dengan negara yang terkena dampak langsung seperti China , Jepang hingga Korea Selatan.

"Pengaruh korona ke Indonesia relatif rendah dibandingkan pengaruh di negara lain di kawasan Asia," kata Perry.

Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp14.290/USD, Ikuti Kejatuhan IHSG

Meskipun begitu lanjut Perry, virus Korona memang memiliki dampak pada perilaku investor yang cenderung menarik dan menahan investasinya di Indonesia. Hal tersebut tercermin dari aliran modal asing yang keluar atau net outflow sebesar Rp30,8 triliun dari pasar keuangan Indonesia di sepanjang Februari.

Adapun rinciannya adalah dana keluar dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp26,2 triliun. Sementara aliran dana yang keluar lewat pasar saham mencapai Rp4,1 triliun.

"Korona virus memang sekarang berdampak pada perilaku investor global terhadap kepemilikan investasi mereka di berbagai negara," ucapnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini