Cerita Sepinya UMKM di Tengah Wabah Virus Corona

Kamis 19 Maret 2020 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 19 320 2185833 cerita-sepinya-umkm-di-tengah-wabah-virus-corona-FCuuJqjPqv.jpg Makanan (Okezone)

JAKARTA - Sektor Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan terkena dampak virus Corona atau Covid-19. Sektor ini disebut ekonom tak bisa lagi menjadi penyangga perekonomian seperti saat krisis ekonomi dan keuangan 1998 dan 2008.

Mengutip BBC Indonesia, Jakarta, Kamis (19/3/2020), Sumiah, 58 tahun, berpangku tangan melihat lalu lalang kendaraan yang melintas di salah satu halte di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Tahu, bakwan, dan tempe goreng yang ia buat dari rumah, tampak masih penuh di wadahnya.

 Baca juga: Berbeda dengan 1998, UMKM Dinilai Tak Bisa Menahan Dampak Ekonomi dari Corona

Biasanya, orang-orang yang hilir mudik membeli jajanannya. Tapi sejak penerapan 'belajar, bekerja dan beribadah dari rumah', dagangannya sepi. Pedagang kaki lima ini mengaku pendapatannya turun 50%.

"Biasa sudah pegang Rp300 ribu. Ini baru Rp100 ribu. Anyep, nyep, nyep. Sepi banget," katanya berkeluh kesah.

 Baca juga: IKM Terdampak Virus Corona Didorong Kembali Produktif

"Ini sudah dikurang-kurangi dagangannya, masak ikan asin sudah dikurangi 10 bungkus, ini (gorengan) biasa bawa 50, cuma bawa 30. Dikurangi banyak, tetap aja nggak habis," tambah Sumiah.

Sumiah adalah tulang punggung keluarga. Dia khawatir tak dapat melanjutkan biaya sekolah anak dan cucunya, lantaran suami sudah 10 tahun terkena stroke.

Ia bingung berapa lama lagi bisa bertahan untuk dagang jika kondisi penjualannya terus menurun.

 Baca juga: Redam Dampak Virus Korona, Akan Ada Stimulus untuk Menggerakan UMKM

"Aduh, ampun, buat makan saja kayaknya kembang kempis. Putar-puter kira-kira bisa buat jajan anak sekolah. Muter-muternggak karuan ngurangin belanjaan," katanya.

Lain cerita dengan pelaku usaha kecil bidang konveksi di Bandung, Jawa Barat, Taufik Rosadi. Saat ini usahanya terpukul karena pelanggan mulai mengurangi pemesanan.

"Jadi ini 50%-60% (pendapatan berkurang) sudah mulai terasa. Jadi order-order yang kecil aja yang dijalankan projek-projek yang kecil," kata Taufik.

Selain itu, usahanya juga memerlukan bahan baku impor. Saat ini nilai rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Pada Rabu (18/03), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp15.200 per USD1.

"Agak bingung juga di harga. Kan harga naik semua, dollar kan. Kain, yang terutama terasa banget," lanjut Taufik.

Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan cepat untuk mengendalian Covid-19. Jika kondisi ekonomi tak berubah, maka usahanya hanya bisa bertahan sampai Mei mendatang.

"Ini kalau sampai bulan Mei, juga sudah lumayan berat ya. Karena kita harus lewatin lebaran segala macam, saya juga harus (beri) THR, mulai terpikir kan," lanjut Taufik.

Sumiah dan Taufik merupakan dua di antara 116 juta orang yang bekerja di sektor UMKM di Indonesia. Data tahun 2017 dari Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan sektor ini menyerap tenaga kerja hingga 97%, sekaligus penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60%.

Jumlah UMKM yang tersebar di Indonesia sebanyak 62,9 juta unit yang meliputi perdagangan, pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, pengolahan, bangunan, komunikasi, hotel, restoran dan jasa-jasa.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini